Dari Mitologi Menjadi Tradisi

Dari Mitos Hingga Menjadi Tradisi 

Menjaga Tratadisi Masyarakat Jawa (ungkalan) dalam Modernisasi

* M Khoirul Amin

Email: khoirul.amin.jbr@gmail.com

Abstrak:

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna atau nilai nilai.

Baik nilai dalam konteks agama, pendidikan maupun sosial. Seperti halnya tradisi masyarakat ungkalan yang tiap tahun dan setiap acara-acara khusus keluarga mereka mengadakan slametan atau ruatan. Hal ini akan menjadi pembahasan yang sangat panjang dan banyak menandung nilai-nilai dalam budaya tersebut, kalau kita mau menggali lebih dalam lagi.

Pada dasarnya, adanya tradisi atau budaya orang jawa itu lahir bukan karena kekosongan warga masyarakat sendiri. Akan tetapi budaya atau tradisi itu lahir karena adanya mitologi atau cerita-cerita rakyat yang bersifat mistis. Sehingga masyarakat sekitar meyakini dan mengekpresikan dari gagasan yang lahir dari mitologi tersebut dalam bentuk upacara adat maupun tradisi yang lainnya.

Dalam dunia modernisasi tradisi dianggap sebagai kepercayaan yang kolot jadul atau ketinggalan jaman. Anggapan-anggapan seperti ini perlu kita tepis jauh-jauh semasih tradisi itu memiliki nilai-nilai yan gluhur dan patut diperjuangkan. Hal ini, bisa jadi kurangnya tanggapan dan pengakuan dari orang-orang yang memang berwenang. Seperti pemerintah dan mentri yang sesuai dengan bidangnya. Jika ini terlaksana, pastinya tidak menuntut kemungkinan tradisi orang jawa tidak akan terkikis dengan adanya perubahan jaman.

Untuk menanggapi atau merespon dengan datangnya arus globalisasi agar budaya atau tradisi tidak luntur dengan sendirinya. Maka sangat perlu ditanamkan yang namanya pembangunan jati diri;pemahaman falsafah budaya;penerbitan peraturan daerah; serta pemanfaatan teknologi informasi dengan baik.

Kata kunci : mitos, tradisi, nilai-nilai, modernisasi.

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejahteraan dengan fabel dan legenda. Akan tetapi mitos dalam bahasa moderen memiliki hubungan dengan masa lampau, sebagai cerita primordial dan arketipe [1]. Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna.

Makna-makna yang dimaksud dalam budaya bukan makna yang bisa kita simpulkan dengan mudah. Makna dalam budaya bukan merupakan makna baik dan buruk. Akan tetapi makna yang mengandung arti keseimbangan dan sosial dalam bermasyarakat. Atau bisadikatakan makna yang luhur, tidak memandang agama maupun yang lainnya. Sehingga, keantengan dalam berbudaya sangat indah dalam mata masyarakat.

Sebuah kebiasaan yang lahir dari individu dan masyarakat dapat membentuk tatanan kelakuan. Tatanan kelakukan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi budaya. Meleburnya ketiga hal tersebut (kebiasaan, kelakuan, dan budaya) melahirkan satu tatanan lagi yang disebut dengan kesepakatan.

Berbagai bentuk kebiasaan masyarakat, secara mudah, dapat ditemukan dalam kehidupannya sehari-hari, baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Hal ini dilakukan oleh masyarakat terkait dengan perannya sebagai makhluk sosial. Salah satu bentuk kebiasaan masyarakat tersebut adalah kebiasaan berbahasa dan berkomunikasi. Berbahasa dan berkomunikasi merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan.

Berkaitan dengan aktivitas berbahasa dan berkomunikasi tersebut, jika seorang, dua orang, atau beberapa orang berkomunikasi (melakukan aktivitas pertuturan), mereka secara langsung dan sengaja telah membawa suatu misi atau pesan yang signifikan. Mereka telah mempertukarkan tanda-tanda untuk membagi makna-makna.[2] Begitu juga dengan munculnya tradisi ini tidak lepas dari pengaruh para tokoh yang ada dalam wilayah tersebut. Baik secara makna maupun secara tindakan keseharian masyarakat tersebut.

Dalam suatu negara pastinya tidak bisa kita pungkiri banyak pelbagai mitos atau cerita-cerita mistis terkait dengan tradisi atau adat dalam suatu negara tersebut. Akan tetapi, pastinya da;am negara indonesia ini yang memiliki paling banyak budaya maupun tradisi dalam hal apapun. Baik dalam bahasa, kebiasaan, suku, ras, agama  dan lain sebagainya. Bisa dikatakan indonesia adalah negara yang memiliki banyak budaya (multikultural).

Di daerah ungkalan yang bertepatan diwilayah kabupaten jember propinsi jawa timur. Masih kental akan tradisi yang berbau mistis atau cerita-cerita yang memiliki ruh atau kehidupan. Sehingga hal ini menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat disana. Bahkan hingga saat ini tradisi ini masih harum dipermukaan masyarakat ungkalan.

Banyak hal yang ada dalam masyarakat ungkalan. Diantaranya seperti tradisi lesan seperti: buaya putih, hutan angker, hewan keramat, dan danyang, fenomena-fenomena orang hilang atau penunggu desa tersebut. Sehingga membuat masyarakat untuk mengapresisasikan mistis tersebut menjadi sebuah upacara adat (jawa= slametan atau ruatan) untuk menghibur agar desa diberi ketenangan atau keseimbangan. Hal ini pernah menjadi pertanyaan kepada informan kami [3], mbah kenapa harus ada upacara adat mbah, seperti ruatan-ruatan desa maupun ruatan wayang dan santri. Beliau menjawab untuk keharmonisan, keselamatan atau keseimbangan dalam bermasyarakat.

Dalam sebuah perbedaan, bukan hanya perbedaan dalam bentuk budaya saja. Akan tetapi perbedaan dalam beragama, ideologi, maupun perbedaan dalam berpikir. Hal ini yang menjadikan perbedaan lahir dan perbedaan ini yang melahirkan sebuah keharmonisan dalam bermasyarakat. Dalam catatan perbedaan yang saling menghargai satu sama lainnya.

Begitu juga dalam tubuh masyarakat ungkalan ada tiga pola pikir dalam menanggapi mitos atau tradisi lesan tersebut. Pertama: agama islam murni, artinya orangn ini hanya berpedoman atau berpola pikir murni keislaman, dalam artian tidak bisa dimasuki oleh tradisi yang ada diluar islam; kedua: kejawen, artinya bagian masyarakat ini terlalu kental dalam adat jawanya atau tradisi nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka dan tidak mau meninggalkan apa-apa yang telah di berikan, bahkan mendahulukan adat daripada agama; ketiga: islam kejawen artinya golongan masyarakat ini adalah masyarakat yang tidak meninggalkan hukum-hukum islam dan tidak meninggalkan tradisi atau adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Suatu fenomena yang terjadi di ungkalan adalah fenomena upacara adat. Pada awalnya upacara adat yang ada di ungkalan adalah ruatan desa dan ruat wayang, ruatan ini dilakukan pada malam hari. Suatu ketika dengan datangnya ustat nur selaku tokoh agama dalam desa tersebut maka ruatan ini ditambahi dengan ruatan santri. Ustat nur beranggapan bahwa, ruatan wayang dan desa sudah agak keluar dari hukum islam serta ada hal yang tidak memiliki subtansi. Contoh kecil: membuang-buang makanan berdoa kepada selai tuhan dan lain sebagainya. Sehingga dengan datangnya ustat nur ruatan ini di desain dengan sebaik mungkin agar tidak bertentangan dengan agama serta tidak mengganggu keseimbangan sosial yang ada di desa ungkalan tersebut.

Hubungan antara mitos dan realitas itu sangat dekat, bergantung pada cara pandang seseorang. Manusia itu hidup dengan mitos-mitos yang membatasi segala tindak tanduknya. Ketakutan dan keberanian terhadap sesuatu di tentukan oleh mitos yang ada disekelilingnya.  Banyak hal yang sukar dipercayai dapat berlaku penganutnya mempercayai sebuah mitos. Dan ketakutan manusia akan sesuatu lebih disebabkan ketakutan akan suatu mitos, bukan ketakutan yang sebenarnya.

Mitos bagi masyarakat primitif merupakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada suatu permulaan yang menyingkap tentang aktivitas supranaturalhingga saat ini. Namun, mitos penciptaannya tidak mengantarkan kepada sebab pertama atau dasar eksistensi manusia, melainkan sebagai jaminan eksistensinya. Berkaitan dengan aktivitas yang supranatural mitos dianggap sebagai yang benar, suci dan bermakna, serta menjadi pedoman harga bagi yang mempercayai dari linkungan tempat tinggalnya.

Demikian realitas mitos jawa diwujudkan melalui  bentuk upacara ritual. Pengulangan kembali mitos dalam upacara-upacara ritual samahalnya menghidupkan kembali mitos atau dimensi kudus pada waktu permulaan. Sehingga bagi masyarakat jawa, mengetahui mitos adalah suatu yang penting karena mitos tidak hanya mengandung tafsiran tentang dunia dengan segala isinya dan contoh model tentang keberadaanya di dunia, tetapi mereka harus mengulangi apa yang telah tuhan dan alam supranatural kerjakan pada waktu permulaan. Jadi, jelaslah mitos bukan merupakan pemikiran intelektual dan logika, melainkan lebih orientasi sepiritual dan mental untuk berhubungan dengan sang ilahi.

Hal ini bisa dikatakan bahwa mitstis, budaya, sosial dan empiris tidak bisa kita pisahkan meski bisa di bedakan. Itu semua sudah mendarah daging dan menjadi ruh dalam jiwa masyarakat indonesia terutama mayarakat ungkalan dan  masyarakat primitif lainnya. Sehingga yang menjadikan bangsa indonesia adalah bangsa yang kaya akan budayanya.

Dalam pembahasan kali ini peneliti semakin tertarik terkait dengan mitos yang telah di manifestasi dalam bentuk budaya-budaya atau tradisi yang sekarang ini masih kental di daerah ungkalan tersebut. Meskipun dalam hal ini kita sudah memasuki zaman moderen, yang sudah banyak mengenal perkembangan. Baik perkembangan dari teknologi, budaya, sosial, pendidikan dan lain sebagainya.

  1. Rumusan masalah

Dari berbagai pendapat dan litelatur diatas, peneliti ingin lebih dalam lagi dalam membahas terkai dengan mitologi yang ada di ungkalan, diantaranya:

  1. Mitos apa saja yang ada di daerah ungkalan?
  2. Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan?
  3. Apa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan?
  4. Bagaimana tradisi ungkalan dalam modernisasi?
  5. Bagaimana strategi dalam menghadapi globalisasi?
  1. Tujuan penulisan

Penulisan kali ini adalah bertujuan untuk menjawab dari permasalahan atau fenomena yang memang menjadi tanda tanya besar bagi kita.

  1. mengetahui apa saja yang ada di daerah ungkalan
  2. Mengetahui Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan
  3. Mengetahui dan paham akan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan
  4. Mengetahui tradisi ungkalan dalam modernisasi
  5. Mengetahui dan paham terkait strategi dalam menghadapi globalisasi

 

  1. Metode penelitian

 

  1. Pendekatan dan jenis penelitian

Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[4]

Sedangkan jenis penelitian ini adalah berbentuk penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang diupayakan untuk mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat obyek tertentu. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memaparkan, menggambarkan, dan memetakan fakta-fakta berdasarkan cara pandang atau kerangka berfikir tertentu. Metode ini berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan kondisi, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang.[5]

Penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu jenis penelitian yang mempunyai karakteristik lebih tertarik menelaah fenomena-fenomena sosial dan budaya dalam suasana yang berlangsung secara ilmiah.

Kualitatif deskriptif ini digunakan dengan beberapa pertimbangan, yaitu (1), lebih mudah apabila menghadapi kenyataan ganda. (2), menyajikan secara langsung hakikat hubungan peneliti dengan responden. (3), lebih peka dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan penajaman pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

  1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah ruang lingkup penelitian atau batasan ruang penelitian. Adapu lokasi penelitian ini mengambil ruang lingkup desa ungkalan, yang bertepatan di daerah hutan sabrang, kec: ambulu.

  1. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah sasaran yang dijadikan penelitian oleh penelitian. Peneliti mengambil obyek penelitian dengan cara pengambilan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah sumber  data dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan atau sumber data tersebut adalah orang yang berkuasa atau orang yang berpengaruh dalam tataran masyarakat. sehingga memudahkan peneliti menjalajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.[6] Dalam artian tidak seluruh masyarakat ungkalan dijadikan penelitian (sample).

  1. Kepala desa ungkalan
  2. Tokoh-tkoh di daerah ungkalan
  3. Sebagian masyarakat unkalan
  1. Teknik pengumpulan data

Pada tahapan ini peneliti memperoleh dan mengumpulkan informasi secara lebih mendetail dan mendalam berdasarkan pada fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan mulai pagi sampai malam hari atau hari-hari tertentu. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut:

  1. Observasi

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh indra [7]. Untuk menggali informasi dengan mengamati gejala-gejala atau kondisi sosial yang ada.

Ada beberapa manfaat menggunakan metode observasi yaitu pertama obervasi atau pengamatan adalah berdasarkan pengalaman, yang mana pengalaman langsung merupakan alat yang ampuh untuk menguji sebuah kebenaran. Kedua dengan pengamatan, memungkinkan melihat dan mengamati sendiri  kemudian mencatat prilaku dan kejadian sebagaimana terjadi pada keadan yang sebenarnya[8].

Maka untuk mendukung penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi dalam memperoleh data-data diantaranya :

  • Untuk mengetahui secara langsung situasi dan kondisi lokasi penelitian.
  • Untuk mengetahui secara langsung aktifitas Mahasiswa atau kader dalam waktu tertentu.
  • Untuk mengetahui secara langsung gejala-gejala dalam sosial organisasi
  1. Interview

Metode interview dikenal dengan tehnik wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewancara ( interview ) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai sebagai pemberi jawaban.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tak terstruktur, karena dengan metode ini peneliti lebih luwes dan leluasa dalam menyampaikan pertanyaan tentang bagaimana pandangan, sikap, keyakinan, dan keterangan lainnya. Subyek diberi kebebasan dalam menguraikan jawabannya serta mengungkapkan pandangannya sendiri tanpa harus dipaksakan. Pertanyaannya bervariasi dalam beberapa format: aplikasinya, isi, urutan pertanyaan[9].

  1. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambaran atau karya-karya monumental dari seseorang[10]. Dokumen ini digunakan dalam penelitian dalam banyak hal, dokumen sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan terhadap realitas yang di teliti.

Kaitannya dengan penelitian ini peneliti berusaha mencari arsip-arsip yang dibutuhkan serta memotret lokasi kegiatan yang ada di ungkalan. Hal ini yang menjadi kesulitan bagi peneliti terkai dengan arsip-arsip, dikarenakan waktu dalam penelitiaan ini sangat singkat. Maka dari itu kami mengambil data yang sekiranya kami bisa menempuhnya dan tidak banyak mengeluarkan waktu yang sangat banyak dan menyita kegiatan yang lainnya (urgen).

  1. Analisis data

Analisa data kualitatif adalah upaya yang di lakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat di kelola, memestikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting[11].

Dalam penelitian ini digunakan teknik analisa data kualitatif-deskriptif  yaitu suatu analisa yang menggambarkan fenomena-fenomena secara obyektif yang terdapat diobyek penelitian, selanjutnya dianalisis dengan mendialogkan data teoritik dan empirik secara bolak-balik dan kritis (bukan angka)[12].

Dengan demikian analisis  kualitatif-deskriptif  adalah kombinasi antara cara berfikir yang bersifat umum menjadi khusus dan berfikir yang bersifat khusus  menjadi umum atau mendialogkan data teoritik dan data empirik. Tahap-tahap analisa data yang digunakan adalah mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan (verifikasi).

  1. Mereduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan transportasi data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Oleh karea itu data perlu disusun kedalam tema atau pokok permasalahan. Hal ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara tentang peran dan strategi pengembangan sumberdaya manusia. Reduksi data berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data. Hal ini mengeingat reduksi bisa terjadi secar berulang, jika ditemukan ketidak cocokan antara data, sehingga perlu dilakukan pengecekan kembali.

  1. Penyajian data

Data yang sudah di sederhanakan selanjutnya disajikan dengan cara disajikan dalam bentuk paparan data secara naratif. Data disini merupakan data yang masih dalam bentuk sementara atau mentah untuk keperluan peneliti dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut secara cermat sehingga diperoleh tingkat keabsahannya.

  1. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan terhadap temuan penelitian. Kesimpulan atau verifikasi dalakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu sejak awal memasuki proses penelitian dan selama proses pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan dengan cara mencari pola, gejala, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat tentatif. Dengan ditambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus akan menemukan kesimpulan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

Adapun model interaksi analisa data sebagai berikut: pengumpulan data, reduksi data, penarikan kesimpulan dan penarikan sementara, penarikan kesimpulan akhir, verifikasi[13].

 

  1. Keabsahan data

Keabsahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada[14].

Teknik triangulasi dibedakan menjadi empat sebagi teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Trianggulasi dengan metode di gunakan untuk pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Trianggulasi dengan teori merupakan berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Trianggulasi dengan sumber membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif[15].

Adapun teknik triangulasi yang digunakan yaitu teknik trianggulasi dengan sumber. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

Hal ini dapat dicapai dengan jalan di antaranya:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi;
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu;
  4. Membandingkan keadaan dan persepektif seseorang dengang berbagai pendapat dan pandangan orang lain;
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan[16].

Dari hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. Disamping itu perbandingan ini akan memperjelas bagi peneliti tentang latar belakang perbedaan persepsi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Historis Dusun Ungkalan

 

Pada awalnya, sebelum membahas terkait dengan mitos maupun tradisi yang ada di ungkalan. Trlebih dahulu kita mengetahui sejarah dari desa tersebut, agar kita tidak lupa dengan akarnya. Dahulu kala, warga ungkalan sebelum menjadi satu dalam satu desa ini mereka hidup terpencar-pencar, ada yang hidup atau menetap di Sumber Bulus, Canga Indah dan diberbagai tempat lainnya, mereka belum satu dusun seperti ini. Dari beberapa litelatur dan cerita yang didapatkan mereka (masyarakat) banyak yang bermukim di seberang gunung karena pada waktu itu banyak wabah malaria yang menyerang mereka dan menyebabkan banyak warga meninggal. Kemudian sebagian masyarakat membabat dusun ungkalan ini dan mengajak seluruh masyarakat yang ada di sana untuk pindah, dan berkas seperti perkampungan seperti bata, genting dan yang lainnya sampai saat ini masih ada.[17]

Pada awalnya dusun ungkalan ini dibabat oleh mbah Ponimin.  Beliau berasal dari ponorogo tepatnya di tegal sari dan istrinya yang bernama buk Mojinem yang berasal dari kota Pare kabupaten Kediri. Menurut cerita mbah subur[18], mbah ponimin masuk di daerah ungkalan pada tahun 1935 namun hanya sebatas menjalankan tugas dan pada tahun 1938 beliau membabat dan baru pada tahun 1942 resmi menjadi desa atau sebuah perkampungan kecil. Kemudian setelah semakin meluas dan semakin banyak penduduknya, maka dibabatlah sambirejo pada tahun 1947/1948,  selain itu mbah ponimin merupakan mandor pertamakali di perhutani.

Ada pertanyaan yang mendasar bagi kami terkait dengan dusun ungkalan ini. Mengapa dusun ini dinamakan dusun ungkalan,? Ungkalan ini berasal dari kata ungkal yang artinya nama ungkal ini merupakan sejenis batu yang biasanya di uat alat asah untuk benda tajam atau besi, seperti; pisau, cangkul, arit, garu dan lain sebagainya. Di daerah ini terdapat sebuah bukit atau gumuk ungkal, akan tetapi pada awalnya namanya bukan bukit ungkal melainkan gumuk macan. Gumuk ini dulu sering di kunjungi oleh orang-orang luar daerah untuk mengambil batunya. Sebagaimana batu tersebut dijual dan digunakan untuk mengasah pisau dan semacamnya. Lambat laun, gumuk ini berubah menjadi gumuk batu ungkal, kemudian dengan bahasa sederhana dan pengaruh dari gumuk tersebut yang batunya banyak dimanfaatkan oleh orang untuk mrngasah daerah ini menjadi daerah ungkalan.

Pada dasarnya, daerah ungkalan ini bukan hanya ada satu gumuk saja atau bukit. Daerah ini banyak bukit dan gunung. Bahkan bisa dikatakan daerah ini dikelilingi gunuing dan bukit. Diantaranya bukit bokong semar, nama bukit ini diambil karena secara fisik bukit ini ketika dilihat dari kejauhan terlihat seperti bokongnya semar, semar ini seperti tokoh yang ada dalam cerita perwayangan. Maka dari itu bukit ini dnamakan sesuai dengan bentuk dari bukit tersebut yakni bukit bokong semar.

Ada juga bukit yang namanya bukit menggeh. Bukit ini terletak di baratnya desa. Bukit ini dinamakan bukit menggeh karena anggapan warga sekitar masyarakat ungkalan bahwasannya ketika melewati bukit ini kondisi fisik dan nafasnya yang melewati meti merasakan lelah atau terngah-ngah (menggeh-menggeh=jawa)[19]. Ketika kita pahami, memang secara umumnya ketika kita melewati dataran tinggi, apalagi jalannya yang berpasir pasti kita merasakan kelelahan dan napas kita tidak beraturan. Sehingga, dengan anggapan ini masyarakat menamakan bukit ini dengan sebutan bukit menggeh.

Di daerah ungkalan ini banyak menyimpan hal-hal yang berbau mistis. Seperti kejadian yang dialami oleh pak priadi[20] sendiri yang katanya hilang selama seminggu dibawa oleh mahluk halus ktika beliau sedang mencari rumput di hutan petak tujubelas. Dan ceritanya tetangganya pak priadi yang pernah ditakut takuti oleh mahluk halus, beliau ketika mau jalan jalan di bukit menggeh pernah ditarik kakinya atau diseret kakinya oleh mahluk halus, rumahnya teletak di timurnya rumah pak priadi. Dan masih banyak lagi hal-hal yang bersejarah dan mengandung mistis di daerh ungkalan ini.

Begitu juga dengan ceritakan oleh bu pojok, terkait fenomena maupun kondisi sosial masyarakat ungkalan. Baik dalam hal mistis, rasional maupun empiris. Bu wati adalah orang pedatang dari gumuk mas atau daerah mengen. Beliau pindah ke ungkalan sekitar tahun 1986 bersama suaminya, pada waktu itu masih kepemimpinan pak soekarno presiden RI. Bu wati menceritakan pada masa mudanya di ungkalan, bu wati juga menemui tragedi PKI pada waktu itu, pembunuhan-pembunuhan. Mendengar ceritanya bu pojok “pada waktu itu nak, saya dengan keluarga saya sedang di dalam kamar, pasti kalau malam sebelum mobilnya orang PKI lewat kami tidak bisa tidur, dan tidurnya kami di atas lantai, karena kami tidak berani tidur diatas kasur (amben : jawa), pada waktu itu ada salah satu keluarga perempuan saya yang ngantuk berat, tidak terasa tertidur(kesirep : jawa), tidak lama kemudian dengan rasa takut dan kaget karena mobil orang PKI lewat depan rumah kami(bu pojok) saudara perempuan kami yang tadi langsung ngompol, karena sangking takutnya”[21].

Bersamaan dengan itu, menurut sebagian penduduk yang lain dusun ungkalan dihuni pendudk pribumi sebagai tempat persembunyian antek-antek komunis dan puncaknya pada tahun 1965 terjadi pembantaian besar-besaran oleh tentara nasional indonesia terhadap antek-antek partai komunis indonesia yang sering disebut atau terkenal dengan istilah G30S PKI. Di ungkalan mayoritas penduduknya yang saat ini merupakan generasi kedua, ketiga, dan keempat dari antek-antek partai komunis indonesia tersebut. Beberapa penduduk seperti pak jumiran, menceritakan bahwa orangtuanya dibantai karena dituduh antek PKI pada waktu itu. Penduduk asli ungkalan menyebut peristiwa tersebut dengan istilah Gestapo.

  1. Kondisi geografis

 

Secara geografis ungkalan adalah sebuah dusun yang terletak di desa sabrang kecamatan ambulu kabupaten jember yang teletak di daerah hutan sabrang. Letak dusun ungkalan dekat dengan desa sumberjo sekitar 100 meter yang hanya dipisah dengan sungai mayang. Akan tetapi secara administrasi ungkalan ini masuk desa sabrang karena bergandengan dengan hutan sabrang yang luasnya sekitat 3000 hektar[22].

Masyarakat ungkalan menyebut dusun ungkalan menjadi dua daerah, yaitu ungkalan dan sambirejo. Daerah ungkalan disebut dengan kidul ban (selatan rel lori), sedangkan sambirejo disebut dengan daerah lor ban (utara rel lori), penyebutan ini berdasarkan atas sejarah pada mulanya di daerah ini terbentang rel kereta untuk mengangkut kayu menuju ambulu pada masa belanda[23].

Akan tetapi,  baik daerah ungkalan (lor ban) maupun sambirejo (kidol ban) secara administrasi masuk di wilayah dusun ungkalan. Setelah indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 pemerintah mulai merevisi beberapa hal yang sebelumnya diberlakukan oleh belanda dan jepang, termasuk pengaturan mengenai pertanahan (agrarische wet). Sehingga, pada tahun 1960 pemerintah memberlakukan Undang-undang pokok agraria (UUPA) UU no.5 tahun 1960.

Setelah di tetapkannya UU agraria, mulai ada penertiban mengenai kebijakan agraria secara nasional meliputi segala hal tentang pertahanan. Kawasan hutan mulai dikelola oleh negara. Pada tahun 1979 perhutani mulai menertibkan kawasan ungkalan dan memberi kebijakan bahwa warga yang rumahnya berjauhan agar saling merapat. Hingga tahu ini warganya lebih dari 1700 kepala, pada tahun 2013 terdapat 1704 kepala. Secara otomatis pada tahun ini warganya semakin meningkat atau bertambah.

  1. Kondisi masyarakat ungkalan

 

Kondisi sosial merupakan sebuah situasi atau keadaan yang ada di dalam masyarakat ungkalan tersebut. Baik dalam hal sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Hal ini akan sedikit kami pisah-pisahkan dari kondisi sosial yang lainny, agar tidak tercampur aduk dengan yang lain.

  • Kondisi sosial masyarakat

Sekilas mengamati kondisi sosial masyarakat ungkalan, mayoritas disana adalah berbahasa jawa, ada yang berbahasa madura tapi sangat sedikit sekali. Masyarakat ungkalan merupakan masyarakat asli yang berkelahiran di ungkalan sendiri. Meskipun disana banyak pendatang dari luar. Seperti halnya bu wati, beliau aslinya orang luar kota, kemudian bu wati menikah dengan orang asli ungkalan dan menetap di ungkalan, beliau pindah pada tahun 1986.

Daerah ungkalan memang jauh dari pusat keramaiaan, bahkan sinyal HP sangat sulit disana. Ketika sebagian warga ingin keluar atau mencari hiburan terutama pemuda-pemuda ungkalan, mereka harus melewati hutan-hutan yang sangat panjang kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga untuk menuju keramaian (alun-alun ambulu) atau kota jember.

  • Kondisi sosial beragama masyarakat

Kata ustad nur[24], mayoritas agama warga disini adalah agama islam. Meskipun islam nya hanya formalitas, dalam artian islam KTP sebutannya islam, akan tetapi tidak melakukan perintah agama atau rukun islam. Di ungkalan juga ada yang beragama islam akan tetapi tidak satu ideologi dengan islam NU. Bisa dikatakan masyarakat disini masih terlalu awa.

Hal ini terbukti dengan sebagian aktivitas warga ungkalan. Ketika kami sedikit melihat dengan melihat, jalan-jalan ada juga yang memelihara anjing, babi dan ada juga yang meminum minuman keras. Akan tetapi hal ini sebagian kecil dari warga ungkalan.

  • Kondisi sosial pendidikan masyarakan

Kondisi sosial pendidikan masyarakat ungkalan adalah sangat minim sekali[25]. Mayoritas warga ungkalan yang sudah berkeluarga hanya tamatan SD dan SMP ada yang SMA akan tetapi sangat sedikit. Bahkan ada yang sudah sarjana, tapi hanya satu dan sampai sekarang ini mengajar di SDN 2 ungkalan sendiri, yakni pak Imam beliau tamatan atau alaumni IAIN jember.

Akan teapi di ungkalan juga sudah ada satu lagi yang masih berproses di bangku perkuliahan. Yakni anaknya bu simah, dia sekarang kuliah di jurusan kedokteran di kota malang, meskipun kondisi ekonomi bu simah juga tidak terlalu banyak.

Sedangkan pemuda yang ada disana banyak yang putus sekolah. Putus sekolah ini banyak faktor yang mempengaruhi mereka sehingga putus sekolah. Sepertihalnya; kurangnya motivasi dari keluarga, minimnya ekonomi dan lain sebagainya. Akan tetapi, warga ungkalan percaya dengan pondok pesantren bisa dikatakan fanatik dengan pondok pesantren, sehingga banyak warga yang memondokkan anaknya, terutama anak perempuannya, lantas mereka tidak percaya dengan eksistensi hadirnya pendidikan formal.

Di ungkalan juga ada lembaga pendidikan formal SD dan pendidikan taman kanak-kanak yang lokasinya berhadap-hadapan. Dahulu pernah mau didirikan lembaga pendidikan formal SMP, akan tetapi sama warga masyarakat tidak di setujui, karena lokasi pendirian lembaga tersebut mengorbankan lapangan yang dijadikan lokasi kegiatan masyarakat ungkalan. Seperti, acara ruatan desa maupun tempat nongkrong pemuda-pemuda. Karena disisi lain di lapangan ini banyak sinnyal HP, sehingga dengan kondisi yang demikian menjadikan pemuda-pemuda untuk berkumpul atau nongkrong di lapangan bersama teman-temannya.

Ketidak ingingan masyarakat bukan karena berdirinya SMP atau MTS tersebut, akan tetapi karena lapangan yang sebagai lokalisasi acara-acara masyarakat dijadikan korban. Jika MTS tersebut didirikan di lapangan maka warga tidak bisa menjalankan tradisinya atau menghilangkan tradisi dengan sendirinya karena kesulitan lokasi.

  • Kondisi sosial ekonomi masyarkat

Kondisi sosial ekonomi masyarakat ungkalan adalah bentuk matapencaharian atau pekerjaan masyarakat  ungkalan. Pada umumnya pekerjaan warga ungkalan adalah petani dan buruh petani. Dan ada juga yang pekerjaannya mencari rumput untuk makanan ternak dalam artian mencarikan rumput sebagian warga ungkalan sendiri. Selain itu ada juga yang berdagang seperti bu wati yang membuka toko di depan rumahnya. Akan tetapi pekerjaan ini sedikit di ungkalan.

Bahkan ada yang merantau di luar kota hingga di luar jawa. Seperti bu simah, selaku ibu rumah tangga beliau rela untuk bekerja di Malaisiya menjadi buruh disana untuk membiayai penddikan anaknya yang kuliah di perawat di malang.

Ketika kami sekilas berbincang-bincang dengan pak Misnadi[26] selain kami menanyakan tentang ruatan dan mitos atau cerita-cerita mistis di desa, kami juga menanyakan kondisi ekonomi di ungkalan. Kata beliau mayoritas masyarakat disini adalah pekerjaannya adalah petani dan buruh. Dan pada saat ini para petani menanam semangka di ladang. Pak misnadi juga mengatakan terkait hasil panen dari ladang tersebut, ketika panen para petani biasanya menghasilkan kurang lebih 10-15 juta per-panen. Dan panennya semangka atau buah buahan disana sangat cepat, bisa 2-2,5 bulan sudah bisa dipanen.

  1. Pengertian mitos dan tradisi atau budaya
  • Mitos

Pada dasarnya, pola pikir masyarakat terkait dengan mitos yang bersifat mistis mereka sama-sama meyakini atau mempercayai dengan adanya hal mistis. Begitu juga dengan perkataannya mbah sadik[27] bahwasannya pada initinya mahluk halus itu mesti ada dan keberadaanya itu sebenarnya sama dengan manusia, akan tetapi mereka tidak tampak. Seperti dengan adanya cerita buaya putih, danyang, dan mahluk halus yang membawa manusia ke alam jin.

Istilah mitos berasal dari Bahasa Yunani mythos yang berarti cerita dewata, dongeng terjadinya bumi dengan segala isinya. Mitos juga diartikan sebagai perihal dewata, kejadian bumi dan isinya, cerita kepercayaan pada dunia gaib[28].

Mitos adalah cerita-cerita anonim mengenai asal mula alam semesta dan nasib serta tujuan hidup, penjelasan-penjelasan bersifat mendidik yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada anak-anak mereka mengenai dunia, tingkah laku manusia, citra alam, dan tujuan hidup manusia. Mitos bersifat sosial berkaitan dengan keberadaan mitos itu sendiri. Mitos adalah milik masyarakat, diciptakan oleh masyarakat dan hidup di tengah lingkungan masyarakat. Mitos bersifat komunal dan anonim berarti bersifat bahwa keberadaan mitos diakui oleh masyarakat pendukungnya dan menjadi tuntunan, pencipta (pengarang) mitos tersebut tidak diketahui (telah hilang) atau dilupakan oleh masyarakat pendukungnya.

Mitos merupakan sebuah cerita tentang kejadian atau peristiwa alam dan kehidupan manusia yang mampu memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sikap sekelompok orang. Cerita tersebut dapat dituturkan tetapi  juga dapat diungkapkan lewat kesenian seperti tari-tarian atau pementasan wayang. Inti cerita ini merupakan lambang yang mencetuskan pengalaman manusia purba, yakni lambang kebaikan, kejahatan, keselamatan, hidup atau mati, dosa dan penyucian, perkawinan, kesuburan, firdaus dan akhirat. Jika manusia modern cenderung menganggap mitos sebagai rangkaian peristiwa atau cerita yang menghibur maka pada masyarakat tradisional mitos mempunyai makna yang lebih padat. Mitos memberikan arah kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman atau norma bagi kebijakan manusia. Lewat mitos manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian di sekitarnya dan dapat pula menanggapi daya-daya kekuatan alam.

Menurut Endraswara.[29] Mite atau mitos adalah cerita suci berbentuk simbolik yang mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imaginer menyangkut asal-usul dan perubahan-perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatan-kekuatan atas kodrati, manusia pahlawan, dan masyarakat, sehingga mitos mempunyai ciri tersendiri. Ciri-ciri mitos antara lain:

  1. Mitos sering memiliki sifat suci atau sakral, karena sering terkait dengan tokoh yang sering dipuja.
  2. Mitos hanya dapat dijumpai dalam dunia mitos dan bukan dalam dunia kehidupan sehari-hari atau pada masa lampau yang nyata.
  3. Mitos biasanya menunjuk pada kejadian-kejadian penting.
  4. Keberadaan mitos tidak penting, sebab cakrawala dan zaman mitos tidak terkait pada kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dunia nyata.

Mitos merupakan suatu peristiwa alam yang memberikan pedoman dan mengandung nilai didik tertentu. Jadi peranan mitos merupakan aturan yang dijadikan landasan atau pijakan dalam kehidupan manusia dalam mencetuskan suatu gagasan, sehingga memberikan perubahan pada manusia. Oleh karena itu mitos dipercaya ada tanpa dasar-dasar yang jelas dan masuk akal, yaitu tentang kehidupan manusia baik berupa perilaku manusia maupun peristiwa alam ghaib yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui lisan.

  • Tradisi atau budaya

Kebudayaan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan masyarakat, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat begitupula sebaliknya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Menurut Koentjaraningra[30]: Kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

Ruwatan merupakan peninggalan salah satu sisi kehidupan masyarakat Jawa yang diadatkan (menjadi tradisi) karena di anggap sakral. Kata ruwat sudah lama hidup dan ditemukan dalam karyasastra Jawa kuno, misalnya dalam kitab Ramayana yang ditulis pada jaman Mataram kuno, sekitar abad kesepuluh. Kata ruwat artinya “lepas”.10 Kata angruwat atau rumuwat artinya membebaskan, exercise, misalnya membebaskan seseorang dari roh jahat. Sering juga berarti “membebaskan, melepaskan, menyelamatkan”. Kata rinuwat artinya “dibebaskan, dilepaskan, diselamatkan”.11

Ruwatan adalah upacara yang dilakukan orang Jawa untuk menghindarkan diri dari nasib sial dan malapetaka terhadap manusia-manusia tertentu yang diyakini memiliki bawaan nasib sial sejak lahir. Manusia yang diyakini memiliki potensi malapetaka itu dalam istilah Jawa disebut manusia sukerta. Sebagian manusia Jawa memiliki keyakinan bahwa orang yang termasuk dalam kategori sukerta, dapat hidup normal dan jauh dari malapetaka jika dibersihkan/dibebaskan melalui upacara tertentu, yang disebut ruwatan. Manusia yang termasuk dalam ketagori sukerta tersebut dalam kepercayaan Jawa mengalami nasib sial karena ia menjadi mangsa Bathara Kala, satu tokoh dewa jahat yang dapat mencelakakan kehidupan manusia.

  1. Macam-macam mitos dalam masyarakat ungkalan

 

Mitos yang terjadi di ungkalan pada dasarnya sangat banyak sekali. Akan tetapi yang dapat kami rekam hampir sama dengan peneliti terdahulu, kami hanya memastikan kefalidan data tersebut tentang adanya mitos-mitos yang ada di ungkalan. Diantaranya;

  • Membuat acara ritual agar penunggu desa tidak mengamuk dan membuang perkara yang buruk.
  • Adanya mitos buaya putih yang menjadi penunggu desa.
  • Adanya kepercayaan yang bersifat mistis; seperti; dibwanya salahsatu warga ungkalan kedalam dunia jin.
  • Adanya slametan ketupat. Ketupatnya digantung di atas pintu rumah dan hewan peliharaannya (sapi, kebo dll). Agar di beri keselamatan.
  • Adannya ratu adil dalam desa.
  • Maupun mitos-mitos yang berbau tradisi lisan. Seperti; omongan-omongan orang jawa atau petuah jawa.
  1. Macam macam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Pada dasarnya ruatan  dalam kacamata masyarakat adalah slametan, dan slametan ini sangat banyak sekali. Baik slametan setelah hari raya, membangun rumah, membangun pondas, melahirkan, tuju hari dan lain sebagainya. Artinya, ruatan adalah sebagai ekpresi rasa sukur kepada sang maha cipta. Diantaranya ruatan-ruatan yang bersinggungan dengan keseharian warga maupun tradisi;

  • Ruatan ketika mengandung
  • Ruatan ketika melahirkan dan fase-fase perkembangannya
  • Ruatan ketika hari rauya idul adha maupun idul fitri
  • Serta ruatan bulan-bulan islam yang dianggap sakral di mata masyarakakat. Seperti malam suro dan sa’ban.
  • Ruatan desa
  • Ruatan wayang
  • Maupuun ruatan santri

Hal ini, sebagaimana untuk memperingati serti memberi rasa sukur dalam masyarakat serta warga yang lainnya. Maupun untuk memberi keseimbangan serta memberi keharmnisan dalam masyarakat.

  1. Nilai-nilai dalam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Nilai- nilai yang terkandung dalam ruatan sangat banyak sekali, ketika kita mau lebih jauh lagi memahami dan menggali terkait dengan nilai-nilai dalam budaya orang jawa atau masysarakat ungkalan.

Setelah kami refleksikan, kami hanya mampu menyaring beberapa nilai dalam tradisi masyarakat ungkala. Diantaranya;

  • Nilai dalam konteks keagamaan

Nilai dalam konteks keagamaan maksudnya tersiratnya nilai-nilai keagaamaan dalam tradisi budaya orang jawa. Sehingga, masyarakat jawa ketika memahami agama adalah fleksibel, artinya tidak keras atau kaku.

  • Nilai dalam konteks edukasi atau pendidikan

Nilai dalam konteks edukasi maksudnya, nilai atau pengajaran maupun pendidikan bisa di ajarkan melalui adegan ketika ruatan wayang terlaksanakan. Seperti; cerita sejarah terkait dengan sejarah-sejarah para penjajah maupun sejarah islam masuk di jawa.

  • Nilai dalam konteks sosial

Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah nilai sosial yang berbentuk gotong royong, solidaritas, saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

  1. Tradisi masyarakat ungkalan dalam dunia modernisasi

Dalam dunia modernisasi pada saat ini, mayoritas masyarakat beranggapan bahwasannya budaya atau tradisi yang telah mengakar dalam jiwa bangsa indonesia terutama masyarakat jawa sudah mulai terkikis dengan adanya desain baru dari bangsa luar. Baik melalui media maupun melalui wacana yang lainnya, sehingga mampu mendoktin pola pikir masyarakat menjadi liberal. Lebih lebihnya masyarakat kota yang beranggapan kolot terhadap tradisi jawa dan jadul.

Tradisi pada masyarakat jawa pada dasarnya memiliki banyak nilai-nilai yang terpendam. Atau memiliki pesan-pesan yang terpendam dan belum bisa terseampaikan kepada masyarkat yang berbudaya.

Bertahannya budaya jawa bukan hanya karena faktor eksternal saja. Melainkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah yang berangkat dari jiwa warga masyarakat tersebut sendiri maupun dalam sistemnya. Sedangkan caktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar masyarakat tersebut. Dalam artian mereka (masyarakat luar) mau dan mampu menghargai serta mengakui kebudayaan masyarakat jawa apa tidak.

Pada dasarnya bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

  1. Strategi dalam menghadapi globalisasi

 

Tidak dapat dibantah, arus globalisasi yang berjalan dengan cepat menjadi ancaman bagi eksistensi budaya lokal. Penggerusan nilai-nilai budaya lokal merupakan resiko posisi Indonesia sebagai bagian dari komunitas global. Globalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dicegah, tetapi efeknya yang mampu mematikan budaya lokal tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Budaya lokal perlu memperkuat daya tahannya dalam menghadapi globalisasi budaya asing. Ketidakberdayaan dalam menghadapinya sama saja dengan membiarkan pelenyapan atas sumber  identitas lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal. Memang, globalisasi harus disikapi dengan bijaksana sebagai hasil positif dari modenisasi yang mendorong masyarakat pada kemajuan. Namun, para pelaku budaya lokal tidak boleh lengah dan terlena karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, yang dibutuhkan adalah strategi untuk meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapinya. Berikut ini adalah strategi yang bisa dijalankan.

  • Pembangunan jati diri

Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk. Selama ini yang terjaring oleh masyarakat hanyalah gaya hidup yang mengarah pada westernisasi, bukan pola hidup modern. Harus dipahami, nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang ketinggalan zaman sehingga ditinggalkan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan  earifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib sepenanggungan di antara warga. Karena itu, perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan penguatan budaya daerah.

  • Pemahaman falsafah budaya

Sebagai tindak lanjut pembangunan jati diri bangsa melalui revitalisasi budaya daerah, pemahaman atas falsafah budaya lokal harus dilakukan. Langkah ini harus dijalankan sesegera mungkin ke semua golongan dan semua usia berkelanjutan dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal dan nasional yang di dalamnya mengandung nilai-nilai khas lokal yang memperkuat budaya nasional.

Karena itu, pembenahan dalam pembelajaran bahasa lokal dan bahasa nasional mutlak dilakukan. Langkah penting untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidik dan pemangku budaya secara berkelanjutan. Pendidik yang berkompeten dan pemangku budaya yang menjiwai nilai-nilai budayanya adalah aset penting dalam proses pemahaman falsafah budaya.

Pemangku budaya tentunya juga harus mengembangkan kesenian tradisional. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya juga tidak boleh dilupakan. Tetapi, semua itu tidak akan menimbulkan efek meluas tanpa adanya penggalangan jejaring antarpengembang kebudayaan di berbagai daerah. Jejaring itu juga harus diperkuat oleh peningkatan peran media cetak, elektronik dan visual dalam mempromosikan budaya lokal.

  • Penerbitan peratudan daerah

Budaya lokal harus dilindungi oleh hukum yang mengikat semua elemen masyarakat. Pada dasarnya, budaya adalah sebuah karya. Di dalamnya ada ide, tradisi, nilai-nilai kultural, dan perilaku yang memperkaya aset kebangsaan. Tidak adanya perlindungan hukum dikhawatirkan membuat budaya lokal mudah tercerabut dari akarnya karena dianggap telah ketinggalan zaman.

Karena itu, peraturan daerah (perda) harus diterbitkan. Peraturan itu mengatur tentang pelestarian budaya yang harus dilakukan oleh semua pihak. Kebudayaan akan tetap lestari jika ada kepedulian tinggi dari masyarakat. Selama ini kepedulian itu belum tampak secara nyata, padahal ancaman sudah kelihatan dengan jelas.

Berkaitan dengan itu, para pengambil keputusan memegang peran sangat penting. Eksekutif dan legislatif harus bekerja sama dalam merumuskan sebuah perda yang menjamin kelestarian budaya. Dalam perda, perlu diatur hak paten bagi karya-karya budaya leluhur agar tidak diklaim oleh negara lain. Selain itu, masalah pendanaan juga harus diperhatikan karena untuk merawat sebuah budaya tentu membutuhkan anggaran meskipun bukan yang terpenting. Anggaran itulah yang nantinya dimanfaatkan untuk bisa memberi fasilitas secara berkelanjutan bagi program-program pelestarian budaya. Dalam hal ini, pemerintah memegang peran paling besar.

Untuk memperkuat daya saing budaya, pemerintah perlu membangun pusat informasi gabungan untuk pertunjukan seni, pendirian dan pengelolaan promosi pertunjukan seni, pengembangan tenaga ahli khusus untuk membesarkan anak yang berbakat seni, menggiatkan sumbangan pengusaha di bidang seni, penghargaan untuk pertunjukan seni budaya, peningkatan kegiatan promosi tentang produk budaya.

  • Pemanfaatan teknologi

Keberhasilan budaya asing masuk ke Indonesia dan memengaruhi perkembangan budaya lokal disebabkan oleh kemampuannya dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara maksimal. Di era global, siapa yang menguasai teknologi informasi memiliki peluang lebih besar dalam menguasai peradaban dibandingkan yang lemah dalam pemanfaatan teknologi informasi. Karena itu, strategi yang harus dijalankan adalah memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal.

Budaya lokal yang khas dapat menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah tinggi apabila disesuaikan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi. Harus ada upaya untuk menjadikan media sebagai alat untuk memasarkan budaya lokal ke seluruh dunia. Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya lokal akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi. Untuk itu, dibutuhkan media bertaraf nasional dan internasional yang mampu meningkatkan peran kebudayaan lokal di pentas dunia.

KESIMPULAN

Pada dasarnya di dalam tradisi atau upacara-upacara adat mengandung unsur mistis. Secara mitologis mayoritas acara-acara ruatan tersebut mengandung unsur megis. Serta memiliki pesan-pesan yang mau disampaikan kepada warga masyarakat. Dalam artian adanya budaya atau tradisi itu karena adanya cerita-cerita mistis atau secara mitologi.

Dalam masyakrat ungkalan banyak sekali mitos yang telah menjadi tradisi lesan di wajah masyarakat ungkalan. Seperti mitos buaya putih, danyan, penjaga desa, mitosnya nyiroro kidul maupun mitos yang memiliki nilai kesosialan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Nilai yan g terkandung dalam budaya, seperti yang telah kami sampaikan secara singkat dalam pembahasan. Seperti;

  • nilai keagamaan
  • nilai pendikan
  • dan nilai sosial masyarakat

bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

Untuk menanggapi dari adanya pengaruh globalisasi, kiranya ada empat poin. Diantaranya:

  • pembangunan jati diri
  • pemahaman falsafah budaya
  • penerbitan peraturan daerah
  • pemanfaatan teknologi informasi

hal ini kalaupun tidak berjalan dengan lancar dan sinergis pastinya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal atau hasil yang diinginkan. Dalam artian budaya atau tradisi tersebut akan mudah pudar.

KRITIK DAN SARAN

Tidak seharusnya ketika sudah mengenal dunia moderen masyarakat maupun masyarakat luas menghapus tradisi atau budaya indonesia yang telah mengakar di jiwa warga bangsa indonesia, terutama orang jawa.

Hal ini, pada dasarnya mereka (orang jawa) kurang mengakui dan diakui terkai denga budaya yang mereka lestarikan. Serta tidak ada pengakuan dari pemerintah sekitar yang mampu melestarikan serta menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam tradisi orang jawa,

DAFTAR PUSTAKA

  • Ratna,Nyoman Khutha. 2004. “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar).
  • 2004. Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar. (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia).
  • Moleong,Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya).
  • 2011. Metode Penelitian Pendidikan.(Bandung: CV Pustaka Setia).
  • 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R & D. (Bandung: Alfabeta).
  • Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • Syaodih, Nana. 2007metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
  • Moleong, Lexy J. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • STAIN Jember. 2009. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember).
  • Milles, M.B. AM.. 1992. analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT. ( jakarta: UIN Press).
  • Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta).
  • Zulfahnur, Zf. Dkk. Teori Sastra, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
  • Endraswara, Suwardi. 2006. Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala).
  • 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. (Jakarta: PT Rineka Cipta).

[1] Nyoman Khutha Ratna, “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),hlm. 67.

[2] Masinambow, Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar, (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia, 2004),hlm.11.

[3]  Pak sadik: beliau adalah penjaga jembatan kayu, sebagaimana jalan untuk menuju keladang atau pantai.

[4] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),hlm.3.

[5] Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 3

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2010), 300.

[7] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta 1998). Hlm. 133.

[8] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004,hlm.125.

[9] Nana Syaodih, metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007),hlm. 112.

[10] Ibid,,hlm,204

[11] J Lexy Moleong. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta. 2002).hlm.248

[12]STAIN Jember. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember. 2009).hlm.16

[13] Milles, M.B. AM., analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT,( jakarta: UIN Press, 1992), hlm. 89.

[14] Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta), hlm .241

[15] J Lexy Moleong, 2004, hlm. 330-331.

[16] Ibid,hlm. 331

[17] Hasil wawancara dengan mbah muji(06 november 2013), wawancara ini dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang pernah melakukan riset disana. Samsul arifin, S.Pd.I.

[18] Beliau adalah putrakandung dari mbah ponimin dan buk mojinem yang lahir pada tahun 1949, (21 november 2013). Wawancara ini dilakukan oleh samsul arifin alumni IAIN Jember

[19] Katanya bu wati atau di juluki bu pojok yang memiliki warung di pinggir perempatan, dekat sekolah dasar di ungkalan.

[20] Pak priadi ini adalah orang atau narasumber yang pernah mengalami kejadian diluar nalar  pikir manusia, rumahnya pak priadi terletak di depan rumahnya bu watik dekat perempatan agak kebarat sedikit.

[21] Diceritakan oleh bu watik pada tanggal 15 november 2015 jam 08:00 wib.

[22] Hasil wawancara pak mashuri, 10 november 2013. Yang dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang bernama Anwari Nuris, S.H.I. pada waktu riset di ungkalan tahun 2013 yang lalu.

[23] Katanya pak suprapto selaku kasun disana

[24] Ustad nur adalah salah satu informan kami, beliau merupakan pengasuh madrasah al hidayah yang ada di ungkalan.

[25] Hasil wawancara dengan pak imam mustaqim bersama sahabat dzul kifli, 19 november 2015, jam 20:00 wib.

[26] Pak misnadi adalah salah satu warga ungkalan yang setiap kali ada acara ruatan desa, ruatan wayang  maupun ruatan lainnya, yang membuatkan alat-alat ruatan adalah pak misnadi. Seperti cangkul; brujul dan garu. Rumahnya pak misnadi terletak di dekat SDN 2 ungkalan baratnya bu wati atau bu pojok. 16 november 2015.

[27] Mbah sadik adalah salah satu warga yang selalu menjaga jembatan tiap hari. Jembatan iin yang membangun adalah mbah sadik sendiri sebagaimana jembatan ini untuk jalan menyeberangi sungai mati. Wawan cara pada tanggal 20 november 2015.

[28] Zulfahnur, Zf. Dkk,  Teori Sastra, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1997), hlm.27.

[29] Endraswara, Suwardi,   Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala, 2006), hlm.193-194.

[30] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 180.

Advertisements

Dari Mitologi Menjadi Tradisi

Dari Mitologi Menjadi Tradisi

membumikan trtadisi masyarakat jawa (ungkalan) dalam modernisasi

* M Khoirul Amin dan Khoirotul Munawaroh

Email: khoirul.amin.jbr@gmail.com

 

Abstrak:

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna atau nilai nilai.

Baik nilai dalam konteks agama, pendidikan maupun sosial. Seperti halnya tradisi masyarakat ungkalan yang tiap tahun dan setiap acara-acara khusus keluarga mereka mengadakan slametan atau ruatan. Hal ini akan menjadi pembahasan yang sangat panjang dan banyak menandung nilai-nilai dalam budaya tersebut, kalau kita mau menggali lebih dalam lagi.

Pada dasarnya, adanya tradisi atau budaya orang jawa itu lahir bukan karena kekosongan warga masyarakat sendiri. Akan tetapi budaya atau tradisi itu lahir karena adanya mitologi atau cerita-cerita rakyat yang bersifat mistis. Sehingga masyarakat sekitar meyakini dan mengekpresikan dari gagasan yang lahir dari mitologi tersebut dalam bentuk upacara adat maupun tradisi yang lainnya.

Dalam dunia modernisasi tradisi dianggap sebagai kepercayaan yang kolot jadul atau ketinggalan jaman. Anggapan-anggapan seperti ini perlu kita tepis jauh-jauh semasih tradisi itu memiliki nilai-nilai yan gluhur dan patut diperjuangkan. Hal ini, bisa jadi kurangnya tanggapan dan pengakuan dari orang-orang yang memang berwenang. Seperti pemerintah dan mentri yang sesuai dengan bidangnya. Jika ini terlaksana, pastinya tidak menuntut kemungkinan tradisi orang jawa tidak akan terkikis dengan adanya perubahan jaman.

Untuk menanggapi atau merespon dengan datangnya arus globalisasi agar budaya atau tradisi tidak luntur dengan sendirinya. Maka sangat perlu ditanamkan yang namanya pembangunan jati diri;pemahaman falsafah budaya;penerbitan peraturan daerah; serta pemanfaatan teknologi informasi dengan baik.

 

Kata kunci : mitos, tradisi, nilai, modernisasi.

 

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejahteraan dengan fabel dan legenda. Akan tetapi mitos dalam bahasa moderen memiliki hubungan dengan masa lampau, sebagai cerita primordial dan arketipe [1]. Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna.

Makna-makna yang dimaksud dalam budaya bukan makna yang bisa kita simpulkan dengan mudah. Makna dalam budaya bukan merupakan makna baik dan buruk. Akan tetapi makna yang mengandung arti keseimbangan dan sosial dalam bermasyarakat. Atau bisadikatakan makna yang luhur, tidak memandang agama maupun yang lainnya. Sehingga, keantengan dalam berbudaya sangat indah dalam mata masyarakat.

Sebuah kebiasaan yang lahir dari individu dan masyarakat dapat membentuk tatanan kelakuan. Tatanan kelakukan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi budaya. Meleburnya ketiga hal tersebut (kebiasaan, kelakuan, dan budaya) melahirkan satu tatanan lagi yang disebut dengan kesepakatan.

Berbagai bentuk kebiasaan masyarakat, secara mudah, dapat ditemukan dalam kehidupannya sehari-hari, baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Hal ini dilakukan oleh masyarakat terkait dengan perannya sebagai makhluk sosial. Salah satu bentuk kebiasaan masyarakat tersebut adalah kebiasaan berbahasa dan berkomunikasi. Berbahasa dan berkomunikasi merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan.

Berkaitan dengan aktivitas berbahasa dan berkomunikasi tersebut, jika seorang, dua orang, atau beberapa orang berkomunikasi (melakukan aktivitas pertuturan), mereka secara langsung dan sengaja telah membawa suatu misi atau pesan yang signifikan. Mereka telah mempertukarkan tanda-tanda untuk membagi makna-makna.[2] Begitu juga dengan munculnya tradisi ini tidak lepas dari pengaruh para tokoh yang ada dalam wilayah tersebut. Baik secara makna maupun secara tindakan keseharian masyarakat tersebut.

Dalam suatu negara pastinya tidak bisa kita pungkiri banyak pelbagai mitos atau cerita-cerita mistis terkait dengan tradisi atau adat dalam suatu negara tersebut. Akan tetapi, pastinya da;am negara indonesia ini yang memiliki paling banyak budaya maupun tradisi dalam hal apapun. Baik dalam bahasa, kebiasaan, suku, ras, agama  dan lain sebagainya. Bisa dikatakan indonesia adalah negara yang memiliki banyak budaya (multikultural).

Di daerah ungkalan yang bertepatan diwilayah kabupaten jember propinsi jawa timur. Masih kental akan tradisi yang berbau mistis atau cerita-cerita yang memiliki ruh atau kehidupan. Sehingga hal ini menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat disana. Bahkan hingga saat ini tradisi ini masih harum dipermukaan masyarakat ungkalan.

Banyak hal yang ada dalam masyarakat ungkalan. Diantaranya seperti tradisi lesan seperti: buaya putih, hutan angker, hewan keramat, dan danyang, fenomena-fenomena orang hilang atau penunggu desa tersebut. Sehingga membuat masyarakat untuk mengapresisasikan mistis tersebut menjadi sebuah upacara adat (jawa= slametan atau ruatan) untuk menghibur agar desa diberi ketenangan atau keseimbangan. Hal ini pernah menjadi pertanyaan kepada informan kami [3], mbah kenapa harus ada upacara adat mbah, seperti ruatan-ruatan desa maupun ruatan wayang dan santri. Beliau menjawab untuk keharmonisan, keselamatan atau keseimbangan dalam bermasyarakat.

Dalam sebuah perbedaan, bukan hanya perbedaan dalam bentuk budaya saja. Akan tetapi perbedaan dalam beragama, ideologi, maupun perbedaan dalam berpikir. Hal ini yang menjadikan perbedaan lahir dan perbedaan ini yang melahirkan sebuah keharmonisan dalam bermasyarakat. Dalam catatan perbedaan yang saling menghargai satu sama lainnya.

Begitu juga dalam tubuh masyarakat ungkalan ada tiga pola pikir dalam menanggapi mitos atau tradisi lesan tersebut. Pertama: agama islam murni, artinya orangn ini hanya berpedoman atau berpola pikir murni keislaman, dalam artian tidak bisa dimasuki oleh tradisi yang ada diluar islam; kedua: kejawen, artinya bagian masyarakat ini terlalu kental dalam adat jawanya atau tradisi nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka dan tidak mau meninggalkan apa-apa yang telah di berikan, bahkan mendahulukan adat daripada agama; ketiga: islam kejawen artinya golongan masyarakat ini adalah masyarakat yang tidak meninggalkan hukum-hukum islam dan tidak meninggalkan tradisi atau adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Suatu fenomena yang terjadi di ungkalan adalah fenomena upacara adat. Pada awalnya upacara adat yang ada di ungkalan adalah ruatan desa dan ruat wayang, ruatan ini dilakukan pada malam hari. Suatu ketika dengan datangnya ustat nur selaku tokoh agama dalam desa tersebut maka ruatan ini ditambahi dengan ruatan santri. Ustat nur beranggapan bahwa, ruatan wayang dan desa sudah agak keluar dari hukum islam serta ada hal yang tidak memiliki subtansi. Contoh kecil: membuang-buang makanan berdoa kepada selai tuhan dan lain sebagainya. Sehingga dengan datangnya ustat nur ruatan ini di desain dengan sebaik mungkin agar tidak bertentangan dengan agama serta tidak mengganggu keseimbangan sosial yang ada di desa ungkalan tersebut.

Hubungan antara mitos dan realitas itu sangat dekat, bergantung pada cara pandang seseorang. Manusia itu hidup dengan mitos-mitos yang membatasi segala tindak tanduknya. Ketakutan dan keberanian terhadap sesuatu di tentukan oleh mitos yang ada disekelilingnya.  Banyak hal yang sukar dipercayai dapat berlaku penganutnya mempercayai sebuah mitos. Dan ketakutan manusia akan sesuatu lebih disebabkan ketakutan akan suatu mitos, bukan ketakutan yang sebenarnya.

Mitos bagi masyarakat primitif merupakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada suatu permulaan yang menyingkap tentang aktivitas supranaturalhingga saat ini. Namun, mitos penciptaannya tidak mengantarkan kepada sebab pertama atau dasar eksistensi manusia, melainkan sebagai jaminan eksistensinya. Berkaitan dengan aktivitas yang supranatural mitos dianggap sebagai yang benar, suci dan bermakna, serta menjadi pedoman harga bagi yang mempercayai dari linkungan tempat tinggalnya.

Demikian realitas mitos jawa diwujudkan melalui  bentuk upacara ritual. Pengulangan kembali mitos dalam upacara-upacara ritual samahalnya menghidupkan kembali mitos atau dimensi kudus pada waktu permulaan. Sehingga bagi masyarakat jawa, mengetahui mitos adalah suatu yang penting karena mitos tidak hanya mengandung tafsiran tentang dunia dengan segala isinya dan contoh model tentang keberadaanya di dunia, tetapi mereka harus mengulangi apa yang telah tuhan dan alam supranatural kerjakan pada waktu permulaan. Jadi, jelaslah mitos bukan merupakan pemikiran intelektual dan logika, melainkan lebih orientasi sepiritual dan mental untuk berhubungan dengan sang ilahi.

Hal ini bisa dikatakan bahwa mitstis, budaya, sosial dan empiris tidak bisa kita pisahkan meski bisa di bedakan. Itu semua sudah mendarah daging dan menjadi ruh dalam jiwa masyarakat indonesia terutama mayarakat ungkalan dan  masyarakat primitif lainnya. Sehingga yang menjadikan bangsa indonesia adalah bangsa yang kaya akan budayanya.

Dalam pembahasan kali ini peneliti semakin tertarik terkait dengan mitos yang telah di manifestasi dalam bentuk budaya-budaya atau tradisi yang sekarang ini masih kental di daerah ungkalan tersebut. Meskipun dalam hal ini kita sudah memasuki zaman moderen, yang sudah banyak mengenal perkembangan. Baik perkembangan dari teknologi, budaya, sosial, pendidikan dan lain sebagainya.

 

 

 

  1. Rumusan masalah

Dari berbagai pendapat dan litelatur diatas, peneliti ingin lebih dalam lagi dalam membahas terkai dengan mitologi yang ada di ungkalan, diantaranya:

  1. Mitos apa saja yang ada di daerah ungkalan?
  2. Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan?
  3. Apa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan?
  4. Bagaimana tradisi ungkalan dalam modernisasi?
  5. Bagaimana strategi dalam menghadapi globalisasi?

 

  1. Tujuan penulisan

Penulisan kali ini adalah bertujuan untuk menjawab dari permasalahan atau fenomena yang memang menjadi tanda tanya besar bagi kita.

  1. mengetahui apa saja yang ada di daerah ungkalan
  2. Mengetahui Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan
  3. Mengetahui dan paham akan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan
  4. Mengetahui tradisi ungkalan dalam modernisasi
  5. Mengetahui dan paham terkait strategi dalam menghadapi globalisasi

 

 

 

  1. Metode penelitian

 

  1. Pendekatan dan jenis penelitian

Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[4]

Sedangkan jenis penelitian ini adalah berbentuk penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang diupayakan untuk mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat obyek tertentu. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memaparkan, menggambarkan, dan memetakan fakta-fakta berdasarkan cara pandang atau kerangka berfikir tertentu. Metode ini berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan kondisi, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang.[5]

Penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu jenis penelitian yang mempunyai karakteristik lebih tertarik menelaah fenomena-fenomena sosial dan budaya dalam suasana yang berlangsung secara ilmiah.

Kualitatif deskriptif ini digunakan dengan beberapa pertimbangan, yaitu (1), lebih mudah apabila menghadapi kenyataan ganda. (2), menyajikan secara langsung hakikat hubungan peneliti dengan responden. (3), lebih peka dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan penajaman pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

 

  1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah ruang lingkup penelitian atau batasan ruang penelitian. Adapu lokasi penelitian ini mengambil ruang lingkup desa ungkalan, yang bertepatan di daerah hutan sabrang, kec: ambulu.

 

  1. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah sasaran yang dijadikan penelitian oleh penelitian. Peneliti mengambil obyek penelitian dengan cara pengambilan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah sumber  data dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan atau sumber data tersebut adalah orang yang berkuasa atau orang yang berpengaruh dalam tataran masyarakat. sehingga memudahkan peneliti menjalajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.[6] Dalam artian tidak seluruh masyarakat ungkalan dijadikan penelitian (sample).

  1. Kepala desa ungkalan
  2. Tokoh-tokoh di daerah ungkalan
  3. Sebagian masyarakat ungkalan

 

  1. Teknik pengumpulan data

Pada tahapan ini peneliti memperoleh dan mengumpulkan informasi secara lebih mendetail dan mendalam berdasarkan pada fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan mulai pagi sampai malam hari atau hari-hari tertentu. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut:

 

  1. Observasi

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh indra [7]. Untuk menggali informasi dengan mengamati gejala-gejala atau kondisi sosial yang ada.

Ada beberapa manfaat menggunakan metode observasi yaitu pertama obervasi atau pengamatan adalah berdasarkan pengalaman, yang mana pengalaman langsung merupakan alat yang ampuh untuk menguji sebuah kebenaran. Kedua dengan pengamatan, memungkinkan melihat dan mengamati sendiri  kemudian mencatat prilaku dan kejadian sebagaimana terjadi pada keadan yang sebenarnya[8].

Maka untuk mendukung penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi dalam memperoleh data-data diantaranya :

  • Untuk mengetahui secara langsung situasi dan kondisi lokasi penelitian.
  • Untuk mengetahui secara langsung aktifitas Mahasiswa atau kader dalam waktu tertentu.
  • Untuk mengetahui secara langsung gejala-gejala dalam sosial organisasi

 

  1. Interview

Metode interview dikenal dengan tehnik wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewancara ( interview ) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai sebagai pemberi jawaban.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tak terstruktur, karena dengan metode ini peneliti lebih luwes dan leluasa dalam menyampaikan pertanyaan tentang bagaimana pandangan, sikap, keyakinan, dan keterangan lainnya. Subyek diberi kebebasan dalam menguraikan jawabannya serta mengungkapkan pandangannya sendiri tanpa harus dipaksakan. Pertanyaannya bervariasi dalam beberapa format: aplikasinya, isi, urutan pertanyaan[9].

 

  1. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambaran atau karya-karya monumental dari seseorang[10]. Dokumen ini digunakan dalam penelitian dalam banyak hal, dokumen sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan terhadap realitas yang di teliti.

Kaitannya dengan penelitian ini peneliti berusaha mencari arsip-arsip yang dibutuhkan serta memotret lokasi kegiatan yang ada di ungkalan. Hal ini yang menjadi kesulitan bagi peneliti terkai dengan arsip-arsip, dikarenakan waktu dalam penelitiaan ini sangat singkat. Maka dari itu kami mengambil data yang sekiranya kami bisa menempuhnya dan tidak banyak mengeluarkan waktu yang sangat banyak dan menyita kegiatan yang lainnya (urgen).

 

  1. Analisis data

Analisa data kualitatif adalah upaya yang di lakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat di kelola, memestikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting[11].

Dalam penelitian ini digunakan teknik analisa data kualitatif-deskriptif  yaitu suatu analisa yang menggambarkan fenomena-fenomena secara obyektif yang terdapat diobyek penelitian, selanjutnya dianalisis dengan mendialogkan data teoritik dan empirik secara bolak-balik dan kritis (bukan angka)[12].

Dengan demikian analisis  kualitatif-deskriptif  adalah kombinasi antara cara berfikir yang bersifat umum menjadi khusus dan berfikir yang bersifat khusus  menjadi umum atau mendialogkan data teoritik dan data empirik. Tahap-tahap analisa data yang digunakan adalah mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan (verifikasi).

 

  1. Mereduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan transportasi data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Oleh karea itu data perlu disusun kedalam tema atau pokok permasalahan. Hal ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara tentang peran dan strategi pengembangan sumberdaya manusia. Reduksi data berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data. Hal ini mengeingat reduksi bisa terjadi secar berulang, jika ditemukan ketidak cocokan antara data, sehingga perlu dilakukan pengecekan kembali.

 

  1. Penyajian data

Data yang sudah di sederhanakan selanjutnya disajikan dengan cara disajikan dalam bentuk paparan data secara naratif. Data disini merupakan data yang masih dalam bentuk sementara atau mentah untuk keperluan peneliti dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut secara cermat sehingga diperoleh tingkat keabsahannya.

 

  1. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan terhadap temuan penelitian. Kesimpulan atau verifikasi dalakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu sejak awal memasuki proses penelitian dan selama proses pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan dengan cara mencari pola, gejala, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat tentatif. Dengan ditambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus akan menemukan kesimpulan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

Adapun model interaksi analisa data sebagai berikut: pengumpulan data, reduksi data, penarikan kesimpulan dan penarikan sementara, penarikan kesimpulan akhir, verifikasi[13].

 

  1. Keabsahan data

Keabsahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada[14].

Teknik triangulasi dibedakan menjadi empat sebagi teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Trianggulasi dengan metode di gunakan untuk pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Trianggulasi dengan teori merupakan berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Trianggulasi dengan sumber membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif[15].

Adapun teknik triangulasi yang digunakan yaitu teknik trianggulasi dengan sumber. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

Hal ini dapat dicapai dengan jalan di antaranya:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi;
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu;
  4. Membandingkan keadaan dan persepektif seseorang dengang berbagai pendapat dan pandangan orang lain;
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan[16].

Dari hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. Disamping itu perbandingan ini akan memperjelas bagi peneliti tentang latar belakang perbedaan persepsi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Historis Dusun Ungkalan

 

Pada awalnya, sebelum membahas terkait dengan mitos maupun tradisi yang ada di ungkalan. Trlebih dahulu kita mengetahui sejarah dari desa tersebut, agar kita tidak lupa dengan akarnya. Dahulu kala, warga ungkalan sebelum menjadi satu dalam satu desa ini mereka hidup terpencar-pencar, ada yang hidup atau menetap di Sumber Bulus, Canga Indah dan diberbagai tempat lainnya, mereka belum satu dusun seperti ini. Dari beberapa litelatur dan cerita yang didapatkan mereka (masyarakat) banyak yang bermukim di seberang gunung karena pada waktu itu banyak wabah malaria yang menyerang mereka dan menyebabkan banyak warga meninggal. Kemudian sebagian masyarakat membabat dusun ungkalan ini dan mengajak seluruh masyarakat yang ada di sana untuk pindah, dan berkas seperti perkampungan seperti bata, genting dan yang lainnya sampai saat ini masih ada.[17]

Pada awalnya dusun ungkalan ini dibabat oleh mbah Ponimin.  Beliau berasal dari ponorogo tepatnya di tegal sari dan istrinya yang bernama buk Mojinem yang berasal dari kota Pare kabupaten Kediri. Menurut cerita mbah subur[18], mbah ponimin masuk di daerah ungkalan pada tahun 1935 namun hanya sebatas menjalankan tugas dan pada tahun 1938 beliau membabat dan baru pada tahun 1942 resmi menjadi desa atau sebuah perkampungan kecil. Kemudian setelah semakin meluas dan semakin banyak penduduknya, maka dibabatlah sambirejo pada tahun 1947/1948,  selain itu mbah ponimin merupakan mandor pertamakali di perhutani.

Ada pertanyaan yang mendasar bagi kami terkait dengan dusun ungkalan ini. Mengapa dusun ini dinamakan dusun ungkalan,? Ungkalan ini berasal dari kata ungkal yang artinya nama ungkal ini merupakan sejenis batu yang biasanya di uat alat asah untuk benda tajam atau besi, seperti; pisau, cangkul, arit, garu dan lain sebagainya. Di daerah ini terdapat sebuah bukit atau gumuk ungkal, akan tetapi pada awalnya namanya bukan bukit ungkal melainkan gumuk macan. Gumuk ini dulu sering di kunjungi oleh orang-orang luar daerah untuk mengambil batunya. Sebagaimana batu tersebut dijual dan digunakan untuk mengasah pisau dan semacamnya. Lambat laun, gumuk ini berubah menjadi gumuk batu ungkal, kemudian dengan bahasa sederhana dan pengaruh dari gumuk tersebut yang batunya banyak dimanfaatkan oleh orang untuk mrngasah daerah ini menjadi daerah ungkalan.

Pada dasarnya, daerah ungkalan ini bukan hanya ada satu gumuk saja atau bukit. Daerah ini banyak bukit dan gunung. Bahkan bisa dikatakan daerah ini dikelilingi gunuing dan bukit. Diantaranya bukit bokong semar, nama bukit ini diambil karena secara fisik bukit ini ketika dilihat dari kejauhan terlihat seperti bokongnya semar, semar ini seperti tokoh yang ada dalam cerita perwayangan. Maka dari itu bukit ini dnamakan sesuai dengan bentuk dari bukit tersebut yakni bukit bokong semar.

Ada juga bukit yang namanya bukit menggeh. Bukit ini terletak di baratnya desa. Bukit ini dinamakan bukit menggeh karena anggapan warga sekitar masyarakat ungkalan bahwasannya ketika melewati bukit ini kondisi fisik dan nafasnya yang melewati meti merasakan lelah atau terngah-ngah (menggeh-menggeh=jawa)[19]. Ketika kita pahami, memang secara umumnya ketika kita melewati dataran tinggi, apalagi jalannya yang berpasir pasti kita merasakan kelelahan dan napas kita tidak beraturan. Sehingga, dengan anggapan ini masyarakat menamakan bukit ini dengan sebutan bukit menggeh.

Di daerah ungkalan ini banyak menyimpan hal-hal yang berbau mistis. Seperti kejadian yang dialami oleh pak priadi[20] sendiri yang katanya hilang selama seminggu dibawa oleh mahluk halus ktika beliau sedang mencari rumput di hutan petak tujubelas. Dan ceritanya tetangganya pak priadi yang pernah ditakut takuti oleh mahluk halus, beliau ketika mau jalan jalan di bukit menggeh pernah ditarik kakinya atau diseret kakinya oleh mahluk halus, rumahnya teletak di timurnya rumah pak priadi. Dan masih banyak lagi hal-hal yang bersejarah dan mengandung mistis di daerh ungkalan ini.

Begitu juga dengan ceritakan oleh bu pojok, terkait fenomena maupun kondisi sosial masyarakat ungkalan. Baik dalam hal mistis, rasional maupun empiris. Bu wati adalah orang pedatang dari gumuk mas atau daerah mengen. Beliau pindah ke ungkalan sekitar tahun 1986 bersama suaminya, pada waktu itu masih kepemimpinan pak soekarno presiden RI. Bu wati menceritakan pada masa mudanya di ungkalan, bu wati juga menemui tragedi PKI pada waktu itu, pembunuhan-pembunuhan. Mendengar ceritanya bu pojok “pada waktu itu nak, saya dengan keluarga saya sedang di dalam kamar, pasti kalau malam sebelum mobilnya orang PKI lewat kami tidak bisa tidur, dan tidurnya kami di atas lantai, karena kami tidak berani tidur diatas kasur (amben : jawa), pada waktu itu ada salah satu keluarga perempuan saya yang ngantuk berat, tidak terasa tertidur(kesirep : jawa), tidak lama kemudian dengan rasa takut dan kaget karena mobil orang PKI lewat depan rumah kami(bu pojok) saudara perempuan kami yang tadi langsung ngompol, karena sangking takutnya”[21].

Bersamaan dengan itu, menurut sebagian penduduk yang lain dusun ungkalan dihuni pendudk pribumi sebagai tempat persembunyian antek-antek komunis dan puncaknya pada tahun 1965 terjadi pembantaian besar-besaran oleh tentara nasional indonesia terhadap antek-antek partai komunis indonesia yang sering disebut atau terkenal dengan istilah G30S PKI. Di ungkalan mayoritas penduduknya yang saat ini merupakan generasi kedua, ketiga, dan keempat dari antek-antek partai komunis indonesia tersebut. Beberapa penduduk seperti pak jumiran, menceritakan bahwa orangtuanya dibantai karena dituduh antek PKI pada waktu itu. Penduduk asli ungkalan menyebut peristiwa tersebut dengan istilah Gestapo.

  1. Kondisi geografis

 

Secara geografis ungkalan adalah sebuah dusun yang terletak di desa sabrang kecamatan ambulu kabupaten jember yang teletak di daerah hutan sabrang. Letak dusun ungkalan dekat dengan desa sumberjo sekitar 100 meter yang hanya dipisah dengan sungai mayang. Akan tetapi secara administrasi ungkalan ini masuk desa sabrang karena bergandengan dengan hutan sabrang yang luasnya sekitat 3000 hektar[22].

Masyarakat ungkalan menyebut dusun ungkalan menjadi dua daerah, yaitu ungkalan dan sambirejo. Daerah ungkalan disebut dengan kidul ban (selatan rel lori), sedangkan sambirejo disebut dengan daerah lor ban (utara rel lori), penyebutan ini berdasarkan atas sejarah pada mulanya di daerah ini terbentang rel kereta untuk mengangkut kayu menuju ambulu pada masa belanda[23].

Akan tetapi,  baik daerah ungkalan (lor ban) maupun sambirejo (kidol ban) secara administrasi masuk di wilayah dusun ungkalan. Setelah indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 pemerintah mulai merevisi beberapa hal yang sebelumnya diberlakukan oleh belanda dan jepang, termasuk pengaturan mengenai pertanahan (agrarische wet). Sehingga, pada tahun 1960 pemerintah memberlakukan Undang-undang pokok agraria (UUPA) UU no.5 tahun 1960.

Setelah di tetapkannya UU agraria, mulai ada penertiban mengenai kebijakan agraria secara nasional meliputi segala hal tentang pertahanan. Kawasan hutan mulai dikelola oleh negara. Pada tahun 1979 perhutani mulai menertibkan kawasan ungkalan dan memberi kebijakan bahwa warga yang rumahnya berjauhan agar saling merapat. Hingga tahu ini warganya lebih dari 1700 kepala, pada tahun 2013 terdapat 1704 kepala. Secara otomatis pada tahun ini warganya semakin meningkat atau bertambah.

  1. Kondisi masyarakat ungkalan

 

Kondisi sosial merupakan sebuah situasi atau keadaan yang ada di dalam masyarakat ungkalan tersebut. Baik dalam hal sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Hal ini akan sedikit kami pisah-pisahkan dari kondisi sosial yang lainny, agar tidak tercampur aduk dengan yang lain.

 

  • Kondisi sosial masyarakat

Sekilas mengamati kondisi sosial masyarakat ungkalan, mayoritas disana adalah berbahasa jawa, ada yang berbahasa madura tapi sangat sedikit sekali. Masyarakat ungkalan merupakan masyarakat asli yang berkelahiran di ungkalan sendiri. Meskipun disana banyak pendatang dari luar. Seperti halnya bu wati, beliau aslinya orang luar kota, kemudian bu wati menikah dengan orang asli ungkalan dan menetap di ungkalan, beliau pindah pada tahun 1986.

Daerah ungkalan memang jauh dari pusat keramaiaan, bahkan sinyal HP sangat sulit disana. Ketika sebagian warga ingin keluar atau mencari hiburan terutama pemuda-pemuda ungkalan, mereka harus melewati hutan-hutan yang sangat panjang kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga untuk menuju keramaian (alun-alun ambulu) atau kota jember.

 

  • Kondisi sosial beragama masyarakat

Kata ustad nur[24], mayoritas agama warga disini adalah agama islam. Meskipun islam nya hanya formalitas, dalam artian islam KTP sebutannya islam, akan tetapi tidak melakukan perintah agama atau rukun islam. Di ungkalan juga ada yang beragama islam akan tetapi tidak satu ideologi dengan islam NU. Bisa dikatakan masyarakat disini masih terlalu awa.

Hal ini terbukti dengan sebagian aktivitas warga ungkalan. Ketika kami sedikit melihat dengan melihat, jalan-jalan ada juga yang memelihara anjing, babi dan ada juga yang meminum minuman keras. Akan tetapi hal ini sebagian kecil dari warga ungkalan.

 

  • Kondisi sosial pendidikan masyarakan

Kondisi sosial pendidikan masyarakat ungkalan adalah sangat minim sekali[25]. Mayoritas warga ungkalan yang sudah berkeluarga hanya tamatan SD dan SMP ada yang SMA akan tetapi sangat sedikit. Bahkan ada yang sudah sarjana, tapi hanya satu dan sampai sekarang ini mengajar di SDN 2 ungkalan sendiri, yakni pak Imam beliau tamatan atau alaumni IAIN jember.

Akan teapi di ungkalan juga sudah ada satu lagi yang masih berproses di bangku perkuliahan. Yakni anaknya bu simah, dia sekarang kuliah di jurusan kedokteran di kota malang, meskipun kondisi ekonomi bu simah juga tidak terlalu banyak.

Sedangkan pemuda yang ada disana banyak yang putus sekolah. Putus sekolah ini banyak faktor yang mempengaruhi mereka sehingga putus sekolah. Sepertihalnya; kurangnya motivasi dari keluarga, minimnya ekonomi dan lain sebagainya. Akan tetapi, warga ungkalan percaya dengan pondok pesantren bisa dikatakan fanatik dengan pondok pesantren, sehingga banyak warga yang memondokkan anaknya, terutama anak perempuannya, lantas mereka tidak percaya dengan eksistensi hadirnya pendidikan formal.

Di ungkalan juga ada lembaga pendidikan formal SD dan pendidikan taman kanak-kanak yang lokasinya berhadap-hadapan. Dahulu pernah mau didirikan lembaga pendidikan formal SMP, akan tetapi sama warga masyarakat tidak di setujui, karena lokasi pendirian lembaga tersebut mengorbankan lapangan yang dijadikan lokasi kegiatan masyarakat ungkalan. Seperti, acara ruatan desa maupun tempat nongkrong pemuda-pemuda. Karena disisi lain di lapangan ini banyak sinnyal HP, sehingga dengan kondisi yang demikian menjadikan pemuda-pemuda untuk berkumpul atau nongkrong di lapangan bersama teman-temannya.

Ketidak ingingan masyarakat bukan karena berdirinya SMP atau MTS tersebut, akan tetapi karena lapangan yang sebagai lokalisasi acara-acara masyarakat dijadikan korban. Jika MTS tersebut didirikan di lapangan maka warga tidak bisa menjalankan tradisinya atau menghilangkan tradisi dengan sendirinya karena kesulitan lokasi.

 

  • Kondisi sosial ekonomi masyarkat

Kondisi sosial ekonomi masyarakat ungkalan adalah bentuk matapencaharian atau pekerjaan masyarakat  ungkalan. Pada umumnya pekerjaan warga ungkalan adalah petani dan buruh petani. Dan ada juga yang pekerjaannya mencari rumput untuk makanan ternak dalam artian mencarikan rumput sebagian warga ungkalan sendiri. Selain itu ada juga yang berdagang seperti bu wati yang membuka toko di depan rumahnya. Akan tetapi pekerjaan ini sedikit di ungkalan.

Bahkan ada yang merantau di luar kota hingga di luar jawa. Seperti bu simah, selaku ibu rumah tangga beliau rela untuk bekerja di Malaisiya menjadi buruh disana untuk membiayai penddikan anaknya yang kuliah di perawat di malang.

Ketika kami sekilas berbincang-bincang dengan pak Misnadi[26] selain kami menanyakan tentang ruatan dan mitos atau cerita-cerita mistis di desa, kami juga menanyakan kondisi ekonomi di ungkalan. Kata beliau mayoritas masyarakat disini adalah pekerjaannya adalah petani dan buruh. Dan pada saat ini para petani menanam semangka di ladang. Pak misnadi juga mengatakan terkait hasil panen dari ladang tersebut, ketika panen para petani biasanya menghasilkan kurang lebih 10-15 juta per-panen. Dan panennya semangka atau buah buahan disana sangat cepat, bisa 2-2,5 bulan sudah bisa dipanen.

 

  1. Pengertian mitos dan tradisi atau budaya

 

  • Mitos

Pada dasarnya, pola pikir masyarakat terkait dengan mitos yang bersifat mistis mereka sama-sama meyakini atau mempercayai dengan adanya hal mistis. Begitu juga dengan perkataannya mbah sadik[27] bahwasannya pada initinya mahluk halus itu mesti ada dan keberadaanya itu sebenarnya sama dengan manusia, akan tetapi mereka tidak tampak. Seperti dengan adanya cerita buaya putih, danyang, dan mahluk halus yang membawa manusia ke alam jin.

Istilah mitos berasal dari Bahasa Yunani mythos yang berarti cerita dewata, dongeng terjadinya bumi dengan segala isinya. Mitos juga diartikan sebagai perihal dewata, kejadian bumi dan isinya, cerita kepercayaan pada dunia gaib[28].

Mitos adalah cerita-cerita anonim mengenai asal mula alam semesta dan nasib serta tujuan hidup, penjelasan-penjelasan bersifat mendidik yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada anak-anak mereka mengenai dunia, tingkah laku manusia, citra alam, dan tujuan hidup manusia. Mitos bersifat sosial berkaitan dengan keberadaan mitos itu sendiri. Mitos adalah milik masyarakat, diciptakan oleh masyarakat dan hidup di tengah lingkungan masyarakat. Mitos bersifat komunal dan anonim berarti bersifat bahwa keberadaan mitos diakui oleh masyarakat pendukungnya dan menjadi tuntunan, pencipta (pengarang) mitos tersebut tidak diketahui (telah hilang) atau dilupakan oleh masyarakat pendukungnya.

Mitos merupakan sebuah cerita tentang kejadian atau peristiwa alam dan kehidupan manusia yang mampu memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sikap sekelompok orang. Cerita tersebut dapat dituturkan tetapi  juga dapat diungkapkan lewat kesenian seperti tari-tarian atau pementasan wayang. Inti cerita ini merupakan lambang yang mencetuskan pengalaman manusia purba, yakni lambang kebaikan, kejahatan, keselamatan, hidup atau mati, dosa dan penyucian, perkawinan, kesuburan, firdaus dan akhirat. Jika manusia modern cenderung menganggap mitos sebagai rangkaian peristiwa atau cerita yang menghibur maka pada masyarakat tradisional mitos mempunyai makna yang lebih padat. Mitos memberikan arah kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman atau norma bagi kebijakan manusia. Lewat mitos manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian di sekitarnya dan dapat pula menanggapi daya-daya kekuatan alam.

Menurut Endraswara.[29] Mite atau mitos adalah cerita suci berbentuk simbolik yang mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imaginer menyangkut asal-usul dan perubahan-perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatan-kekuatan atas kodrati, manusia pahlawan, dan masyarakat, sehingga mitos mempunyai ciri tersendiri. Ciri-ciri mitos antara lain:

  1. Mitos sering memiliki sifat suci atau sakral, karena sering terkait dengan tokoh yang sering dipuja.
  2. Mitos hanya dapat dijumpai dalam dunia mitos dan bukan dalam dunia kehidupan sehari-hari atau pada masa lampau yang nyata.
  3. Mitos biasanya menunjuk pada kejadian-kejadian penting.
  4. Keberadaan mitos tidak penting, sebab cakrawala dan zaman mitos tidak terkait pada kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dunia nyata.

 

Mitos merupakan suatu peristiwa alam yang memberikan pedoman dan mengandung nilai didik tertentu. Jadi peranan mitos merupakan aturan yang dijadikan landasan atau pijakan dalam kehidupan manusia dalam mencetuskan suatu gagasan, sehingga memberikan perubahan pada manusia. Oleh karena itu mitos dipercaya ada tanpa dasar-dasar yang jelas dan masuk akal, yaitu tentang kehidupan manusia baik berupa perilaku manusia maupun peristiwa alam ghaib yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui lisan.

 

  • Tradisi atau budaya

Kebudayaan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan masyarakat, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat begitupula sebaliknya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Menurut Koentjaraningra[30]: Kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

Ruwatan merupakan peninggalan salah satu sisi kehidupan masyarakat Jawa yang diadatkan (menjadi tradisi) karena di anggap sakral. Kata ruwat sudah lama hidup dan ditemukan dalam karyasastra Jawa kuno, misalnya dalam kitab Ramayana yang ditulis pada jaman Mataram kuno, sekitar abad kesepuluh. Kata ruwat artinya “lepas”.10 Kata angruwat atau rumuwat artinya membebaskan, exercise, misalnya membebaskan seseorang dari roh jahat. Sering juga berarti “membebaskan, melepaskan, menyelamatkan”. Kata rinuwat artinya “dibebaskan, dilepaskan, diselamatkan”.11

Ruwatan adalah upacara yang dilakukan orang Jawa untuk menghindarkan diri dari nasib sial dan malapetaka terhadap manusia-manusia tertentu yang diyakini memiliki bawaan nasib sial sejak lahir. Manusia yang diyakini memiliki potensi malapetaka itu dalam istilah Jawa disebut manusia sukerta. Sebagian manusia Jawa memiliki keyakinan bahwa orang yang termasuk dalam kategori sukerta, dapat hidup normal dan jauh dari malapetaka jika dibersihkan/dibebaskan melalui upacara tertentu, yang disebut ruwatan. Manusia yang termasuk dalam ketagori sukerta tersebut dalam kepercayaan Jawa mengalami nasib sial karena ia menjadi mangsa Bathara Kala, satu tokoh dewa jahat yang dapat mencelakakan kehidupan manusia.

 

  1. Macam-macam mitos dalam masyarakat ungkalan

 

Mitos yang terjadi di ungkalan pada dasarnya sangat banyak sekali. Akan tetapi yang dapat kami rekam hampir sama dengan peneliti terdahulu, kami hanya memastikan kefalidan data tersebut tentang adanya mitos-mitos yang ada di ungkalan. Diantaranya;

 

  • Membuat acara ritual agar penunggu desa tidak mengamuk dan membuang perkara yang buruk.
  • Adanya mitos buaya putih yang menjadi penunggu desa.
  • Adanya kepercayaan yang bersifat mistis; seperti; dibwanya salahsatu warga ungkalan kedalam dunia jin.
  • Adanya slametan ketupat. Ketupatnya digantung di atas pintu rumah dan hewan peliharaannya (sapi, kebo dll). Agar di beri keselamatan.
  • Adannya ratu adil dalam desa.
  • Maupun mitos-mitos yang berbau tradisi lisan. Seperti; omongan-omongan orang jawa atau petuah jawa.

 

  1. Macam macam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Pada dasarnya ruatan  dalam kacamata masyarakat adalah slametan, dan slametan ini sangat banyak sekali. Baik slametan setelah hari raya, membangun rumah, membangun pondas, melahirkan, tuju hari dan lain sebagainya. Artinya, ruatan adalah sebagai ekpresi rasa sukur kepada sang maha cipta. Diantaranya ruatan-ruatan yang bersinggungan dengan keseharian warga maupun tradisi;

  • Ruatan ketika mengandung
  • Ruatan ketika melahirkan dan fase-fase perkembangannya
  • Ruatan ketika hari rauya idul adha maupun idul fitri
  • Serta ruatan bulan-bulan islam yang dianggap sakral di mata masyarakakat. Seperti malam suro dan sa’ban.
  • Ruatan desa
  • Ruatan wayang
  • Maupuun ruatan santri

Hal ini, sebagaimana untuk memperingati serti memberi rasa sukur dalam masyarakat serta warga yang lainnya. Maupun untuk memberi keseimbangan serta memberi keharmnisan dalam masyarakat.

 

  1. Nilai-nilai dalam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Nilai- nilai yang terkandung dalam ruatan sangat banyak sekali, ketika kita mau lebih jauh lagi memahami dan menggali terkait dengan nilai-nilai dalam budaya orang jawa atau masysarakat ungkalan.

Setelah kami refleksikan, kami hanya mampu menyaring beberapa nilai dalam tradisi masyarakat ungkala. Diantaranya;

 

  • Nilai dalam konteks keagamaan

Nilai dalam konteks keagamaan maksudnya tersiratnya nilai-nilai keagaamaan dalam tradisi budaya orang jawa. Sehingga, masyarakat jawa ketika memahami agama adalah fleksibel, artinya tidak keras atau kaku.

 

  • Nilai dalam konteks edukasi atau pendidikan

Nilai dalam konteks edukasi maksudnya, nilai atau pengajaran maupun pendidikan bisa di ajarkan melalui adegan ketika ruatan wayang terlaksanakan. Seperti; cerita sejarah terkait dengan sejarah-sejarah para penjajah maupun sejarah islam masuk di jawa.

 

  • Nilai dalam konteks sosial

Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah nilai sosial yang berbentuk gotong royong, solidaritas, saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

 

  1. Tradisi masyarakat ungkalan dalam dunia modernisasi

 

Dalam dunia modernisasi pada saat ini, mayoritas masyarakat beranggapan bahwasannya budaya atau tradisi yang telah mengakar dalam jiwa bangsa indonesia terutama masyarakat jawa sudah mulai terkikis dengan adanya desain baru dari bangsa luar. Baik melalui media maupun melalui wacana yang lainnya, sehingga mampu mendoktin pola pikir masyarakat menjadi liberal. Lebih lebihnya masyarakat kota yang beranggapan kolot terhadap tradisi jawa dan jadul.

Tradisi pada masyarakat jawa pada dasarnya memiliki banyak nilai-nilai yang terpendam. Atau memiliki pesan-pesan yang terpendam dan belum bisa terseampaikan kepada masyarkat yang berbudaya.

Bertahannya budaya jawa bukan hanya karena faktor eksternal saja. Melainkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah yang berangkat dari jiwa warga masyarakat tersebut sendiri maupun dalam sistemnya. Sedangkan caktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar masyarakat tersebut. Dalam artian mereka (masyarakat luar) mau dan mampu menghargai serta mengakui kebudayaan masyarakat jawa apa tidak.

Pada dasarnya bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

 

  1. Strategi dalam menghadapi globalisasi

 

Tidak dapat dibantah, arus globalisasi yang berjalan dengan cepat menjadi ancaman bagi eksistensi budaya lokal. Penggerusan nilai-nilai budaya lokal merupakan resiko posisi Indonesia sebagai bagian dari komunitas global. Globalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dicegah, tetapi efeknya yang mampu mematikan budaya lokal tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Budaya lokal perlu memperkuat daya tahannya dalam menghadapi globalisasi budaya asing. Ketidakberdayaan dalam menghadapinya sama saja dengan membiarkan pelenyapan atas sumber  identitas lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal. Memang, globalisasi harus disikapi dengan bijaksana sebagai hasil positif dari modenisasi yang mendorong masyarakat pada kemajuan. Namun, para pelaku budaya lokal tidak boleh lengah dan terlena karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, yang dibutuhkan adalah strategi untuk meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapinya. Berikut ini adalah strategi yang bisa dijalankan.

 

  • Pembangunan jati diri

Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk. Selama ini yang terjaring oleh masyarakat hanyalah gaya hidup yang mengarah pada westernisasi, bukan pola hidup modern. Harus dipahami, nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang ketinggalan zaman sehingga ditinggalkan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan  earifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib sepenanggungan di antara warga. Karena itu, perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan penguatan budaya daerah.

 

  • Pemahaman falsafah budaya

Sebagai tindak lanjut pembangunan jati diri bangsa melalui revitalisasi budaya daerah, pemahaman atas falsafah budaya lokal harus dilakukan. Langkah ini harus dijalankan sesegera mungkin ke semua golongan dan semua usia berkelanjutan dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal dan nasional yang di dalamnya mengandung nilai-nilai khas lokal yang memperkuat budaya nasional.

Karena itu, pembenahan dalam pembelajaran bahasa lokal dan bahasa nasional mutlak dilakukan. Langkah penting untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidik dan pemangku budaya secara berkelanjutan. Pendidik yang berkompeten dan pemangku budaya yang menjiwai nilai-nilai budayanya adalah aset penting dalam proses pemahaman falsafah budaya.

Pemangku budaya tentunya juga harus mengembangkan kesenian tradisional. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya juga tidak boleh dilupakan. Tetapi, semua itu tidak akan menimbulkan efek meluas tanpa adanya penggalangan jejaring antarpengembang kebudayaan di berbagai daerah. Jejaring itu juga harus diperkuat oleh peningkatan peran media cetak, elektronik dan visual dalam mempromosikan budaya lokal.

 

  • Penerbitan peratudan daerah

Budaya lokal harus dilindungi oleh hukum yang mengikat semua elemen masyarakat. Pada dasarnya, budaya adalah sebuah karya. Di dalamnya ada ide, tradisi, nilai-nilai kultural, dan perilaku yang memperkaya aset kebangsaan. Tidak adanya perlindungan hukum dikhawatirkan membuat budaya lokal mudah tercerabut dari akarnya karena dianggap telah ketinggalan zaman.

Karena itu, peraturan daerah (perda) harus diterbitkan. Peraturan itu mengatur tentang pelestarian budaya yang harus dilakukan oleh semua pihak. Kebudayaan akan tetap lestari jika ada kepedulian tinggi dari masyarakat. Selama ini kepedulian itu belum tampak secara nyata, padahal ancaman sudah kelihatan dengan jelas.

Berkaitan dengan itu, para pengambil keputusan memegang peran sangat penting. Eksekutif dan legislatif harus bekerja sama dalam merumuskan sebuah perda yang menjamin kelestarian budaya. Dalam perda, perlu diatur hak paten bagi karya-karya budaya leluhur agar tidak diklaim oleh negara lain. Selain itu, masalah pendanaan juga harus diperhatikan karena untuk merawat sebuah budaya tentu membutuhkan anggaran meskipun bukan yang terpenting. Anggaran itulah yang nantinya dimanfaatkan untuk bisa memberi fasilitas secara berkelanjutan bagi program-program pelestarian budaya. Dalam hal ini, pemerintah memegang peran paling besar.

Untuk memperkuat daya saing budaya, pemerintah perlu membangun pusat informasi gabungan untuk pertunjukan seni, pendirian dan pengelolaan promosi pertunjukan seni, pengembangan tenaga ahli khusus untuk membesarkan anak yang berbakat seni, menggiatkan sumbangan pengusaha di bidang seni, penghargaan untuk pertunjukan seni budaya, peningkatan kegiatan promosi tentang produk budaya.

 

  • Pemanfaatan teknologi

Keberhasilan budaya asing masuk ke Indonesia dan memengaruhi perkembangan budaya lokal disebabkan oleh kemampuannya dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara maksimal. Di era global, siapa yang menguasai teknologi informasi memiliki peluang lebih besar dalam menguasai peradaban dibandingkan yang lemah dalam pemanfaatan teknologi informasi. Karena itu, strategi yang harus dijalankan adalah memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal.

Budaya lokal yang khas dapat menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah tinggi apabila disesuaikan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi. Harus ada upaya untuk menjadikan media sebagai alat untuk memasarkan budaya lokal ke seluruh dunia. Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya lokal akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi. Untuk itu, dibutuhkan media bertaraf nasional dan internasional yang mampu meningkatkan peran kebudayaan lokal di pentas dunia.

 

 

KESIMPULAN

Pada dasarnya di dalam tradisi atau upacara-upacara adat mengandung unsur mistis. Secara mitologis mayoritas acara-acara ruatan tersebut mengandung unsur megis. Serta memiliki pesan-pesan yang mau disampaikan kepada warga masyarakat. Dalam artian adanya budaya atau tradisi itu karena adanya cerita-cerita mistis atau secara mitologi.

Dalam masyakrat ungkalan banyak sekali mitos yang telah menjadi tradisi lesan di wajah masyarakat ungkalan. Seperti mitos buaya putih, danyan, penjaga desa, mitosnya nyiroro kidul maupun mitos yang memiliki nilai kesosialan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Nilai yang terkandung dalam budaya, seperti yang telah kami sampaikan secara singkat dalam pembahasan. Seperti;

  • nilai keagamaan
  • nilai pendikan
  • dan nilai sosial masyarakat

Bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

Untuk menanggapi dari adanya pengaruh globalisasi, kiranya ada empat poin. Diantaranya:

  • pembangunan jati diri
  • pemahaman falsafah budaya
  • penerbitan peraturan daerah
  • pemanfaatan teknologi informasi

Hal ini kalaupun tidak berjalan dengan lancar dan sinergis pastinya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal atau hasil yang diinginkan. Dalam artian budaya atau tradisi tersebut akan mudah pudar.

 

KRITIK DAN SARAN

Tidak seharusnya ketika sudah mengenal dunia moderen masyarakat maupun masyarakat luas menghapus tradisi atau budaya indonesia yang telah mengakar di jiwa warga bangsa indonesia, terutama orang jawa.

Hal ini, pada dasarnya mereka (orang jawa) kurang mengakui dan diakui terkai denga budaya yang mereka lestarikan. Serta tidak ada pengakuan dari pemerintah sekitar yang mampu melestarikan serta menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam tradisi orang jawa.

Dengan demikian, ketika warga negara indonesia telah membumikan dan mengabadikan budaya atau tradisi jawa, Indonesia tidak akan kehilangan identitasnya, meskipun pengaruh atau doktrin dari dunia luar menghantam tubuh bangsa negara indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Ratna,Nyoman Khutha. 2004. “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar).
  • 2004. Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar. (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia).
  • Moleong,Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya).
  • 2011. Metode Penelitian Pendidikan.(Bandung: CV Pustaka Setia).
  • 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R & D. (Bandung: Alfabeta).
  • Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • Syaodih, Nana. 2007metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
  • Moleong, Lexy J. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • STAIN Jember. 2009. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember).
  • Milles, M.B. AM.. 1992. analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT. ( jakarta: UIN Press).
  • Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta).
  • Zulfahnur, Zf. Dkk. Teori Sastra, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
  • Endraswara, Suwardi. 2006. Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala).
  • 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. (Jakarta: PT Rineka Cipta).

[1] Nyoman Khutha Ratna, “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),hlm. 67.

[2] Masinambow, Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar, (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia, 2004),hlm.11.

[3]  Pak sadik: beliau adalah penjaga jembatan kayu, sebagaimana jalan untuk menuju keladang atau pantai.

[4] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),hlm.3.

[5] Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 3

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2010), 300.

[7] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta 1998). Hlm. 133.

[8] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004,hlm.125.

[9] Nana Syaodih, metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007),hlm. 112.

[10] Ibid,,hlm,204

[11] J Lexy Moleong. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta. 2002).hlm.248

[12]STAIN Jember. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember. 2009).hlm.16

 

[13] Milles, M.B. AM., analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT,( jakarta: UIN Press, 1992), hlm. 89.

[14] Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta), hlm .241

[15] J Lexy Moleong, 2004, hlm. 330-331.

[16] Ibid,hlm. 331

[17] Hasil wawancara dengan mbah muji(06 november 2013), wawancara ini dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang pernah melakukan riset disana. Samsul arifin, S.Pd.I.

[18] Beliau adalah putrakandung dari mbah ponimin dan buk mojinem yang lahir pada tahun 1949, (21 november 2013). Wawancara ini dilakukan oleh samsul arifin alumni IAIN Jember

[19] Katanya bu wati atau di juluki bu pojok yang memiliki warung di pinggir perempatan, dekat sekolah dasar di ungkalan.

[20] Pak priadi ini adalah orang atau narasumber yang pernah mengalami kejadian diluar nalar  pikir manusia, rumahnya pak priadi terletak di depan rumahnya bu watik dekat perempatan agak kebarat sedikit.

[21] Diceritakan oleh bu watik pada tanggal 15 november 2015 jam 08:00 wib.

[22] Hasil wawancara pak mashuri, 10 november 2013. Yang dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang bernama Anwari Nuris, S.H.I. pada waktu riset di ungkalan tahun 2013 yang lalu.

[23] Katanya pak suprapto selaku kasun disana

[24] Ustad nur adalah salah satu informan kami, beliau merupakan pengasuh madrasah al hidayah yang ada di ungkalan.

[25] Hasil wawancara dengan pak imam mustaqim bersama sahabat dzul kifli, 19 november 2015, jam 20:00 wib.

[26] Pak misnadi adalah salah satu warga ungkalan yang setiap kali ada acara ruatan desa, ruatan wayang  maupun ruatan lainnya, yang membuatkan alat-alat ruatan adalah pak misnadi. Seperti cangkul; brujul dan garu. Rumahnya pak misnadi terletak di dekat SDN 2 ungkalan baratnya bu wati atau bu pojok. 16 november 2015.

[27] Mbah sadik adalah salah satu warga yang selalu menjaga jembatan tiap hari. Jembatan iin yang membangun adalah mbah sadik sendiri sebagaimana jembatan ini untuk jalan menyeberangi sungai mati. Wawan cara pada tanggal 20 november 2015.

[28] Zulfahnur, Zf. Dkk,  Teori Sastra, (Jakarta: Departemen PendidiDari Mitologi Menjadi Tradisikan dan Kebudayaan,1997), hlm.27.

[29] Endraswara, Suwardi,   Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala, 2006), hlm.193-194.

[30] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 180.

RENUNGAN DALAM ANGIN, UNTUK NEGARKU TERCINTA

pendidikan memang suatu hal yang sama sekali tidak tabu dalam kancah sosial masyarakat apalagi dalam telinga mahasiswa dan corong-corong para penguasa.

idealnya pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana, sebagaimana untuk menanamkan budi pekerti yang kuhur sehingga menghasilkan manusia yang mampu untuk memanusiakan manusia.

lantas, bagaimana jadinya ketika realitas berbicara lain. seakan akan mengaca dibalik cermin, yang tidak jelas wajah pendidikan di indonesia ini. tidak ada bidanya dan tidak jauh beda, yang namanya pendidikan dengan proyek penghasil uang, pendidikan dengan komponen politisi yang terus mempolitisir dan memeras sari-sari masyarakat yang kurang mampu sebagaimana sapi perah.

sangat tidak sedikit lembaga pendidikan yang berwajahkan kapitalis. korporasi, pemerasan dan penindasan terus merajalela. bahkan, pihak penegak hukum pun ikut bekerja sama untuk memeras sari-sari masyarakat miskin, agar semakin lancar untuk mencairkan dan menghasilkan dana/uang.

perencanaan mengajar yang tidak jelas, KBM yang hanya sekedar formalitas dijadikan alas untuk melanggengkan stabilitas gaji para guru yang tidak mau melihat dan bertanggung jwab atas perkembangan siswa dalam kelas maupun diluar kelas. “yang penting duwit terus mengalir deras” kata bandit-bandit pendidikan.

pemerintah yang sudah menganggarkan dana pendidikan yang begitu besar, lebih dari Rp 419,2 triliun atau 20 persen dari total belanja negara Rp 2095,7 triliun. Hal tersebut pun sudah sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan. subhanalloh….. sungguh sangat baik dan bijak pemerintah, mungkin beliau memandang begitu pentingnya pendidikan itu.

tapi sangat mengherankan juga, ketika dilendinkan program gratis belajar yang katanya sudah lama terlaksana, mengapa masih ada dana atau biaya infaq untuk sekolahan (masih ada saja lembaga yang demikian), katanya sudah dihapuskan yang namanya buku LKS atau di gratiskan, akan tetapi kenapa masih ada yang mengharuskan membeli buku tersebut. sehingga, siswa yang kurang mampu tidak memiliki buku tersebut (tidak terfasilitasi dengan semestinya). pertanyaan yang mendasar, sebenarnya yang memiliki problem atau konsleting itu pihak pengolah lembaga atau pengamatnya, atau mungkin pendidik yang menyalahkan siswanya dikarenakan tidak mampu membeli kebutuhannya(siswa). atau mereka (pendidik dan pengawas dll) sama-sama kompromi. aneh kan..

bagaimana indonesia mau maju, ketika jantung intelektual sudah tidak sehat lagi atau cacat.

bagaimana peserta didik menjadi pintar, ketika sarinya terus diperas

merdeka yang mana kalau di indonesia, khususnya di lembaga pendidikan masih ada penindasan yang terus berkelanjutan

Dari Mitologi Menjadi Tradisi

Dari Mitologi Menjadi Tradisi 

menjaga trtadisi masyarakat jawa (ungkalan) dalam modernisasi

* M Khoirul Amin dan Khoirotul Munawaroh

Email: khoirul.amin.jbr@gmail.com

Abstrak:

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna atau nilai nilai.

Baik nilai dalam konteks agama, pendidikan maupun sosial. Seperti halnya tradisi masyarakat ungkalan yang tiap tahun dan setiap acara-acara khusus keluarga mereka mengadakan slametan atau ruatan. Hal ini akan menjadi pembahasan yang sangat panjang dan banyak menandung nilai-nilai dalam budaya tersebut, kalau kita mau menggali lebih dalam lagi.

Pada dasarnya, adanya tradisi atau budaya orang jawa itu lahir bukan karena kekosongan warga masyarakat sendiri. Akan tetapi budaya atau tradisi itu lahir karena adanya mitologi atau cerita-cerita rakyat yang bersifat mistis. Sehingga masyarakat sekitar meyakini dan mengekpresikan dari gagasan yang lahir dari mitologi tersebut dalam bentuk upacara adat maupun tradisi yang lainnya.

Dalam dunia modernisasi tradisi dianggap sebagai kepercayaan yang kolot jadul atau ketinggalan jaman. Anggapan-anggapan seperti ini perlu kita tepis jauh-jauh semasih tradisi itu memiliki nilai-nilai yan gluhur dan patut diperjuangkan. Hal ini, bisa jadi kurangnya tanggapan dan pengakuan dari orang-orang yang memang berwenang. Seperti pemerintah dan mentri yang sesuai dengan bidangnya. Jika ini terlaksana, pastinya tidak menuntut kemungkinan tradisi orang jawa tidak akan terkikis dengan adanya perubahan jaman.

Untuk menanggapi atau merespon dengan datangnya arus globalisasi agar budaya atau tradisi tidak luntur dengan sendirinya. Maka sangat perlu ditanamkan yang namanya pembangunan jati diri;pemahaman falsafah budaya;penerbitan peraturan daerah; serta pemanfaatan teknologi informasi dengan baik.

Kata kunci : mitos, tradisi, nilai-nilai, modernisasi.

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Mitologi berasal dari bahasa inggris yang berarti mytology dan bahasa prancis mythologie yang bermakna kumpulan-kumpulan mitos yang berasal dari sumber yang sama, atau yang pokok ceritanya sama; studi tentang mitos.

Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejahteraan dengan fabel dan legenda. Akan tetapi mitos dalam bahasa moderen memiliki hubungan dengan masa lampau, sebagai cerita primordial dan arketipe [1]. Mitos adalah sebuah cerita anonim yang berakar dari masyarakat primitif. Apabila pada awalnya mitos diartikan debagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita,  maka dalam pengertian moderen mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Mitos sebagai cerita yang memiliki struktur yang berarti mitos dibagun oleh satuan-satuan minimal yang bermakna. Satuan minimal yang membangun struktur cerita mitologis sehingga struktur itu sendiri mngandung makna.

Makna-makna yang dimaksud dalam budaya bukan makna yang bisa kita simpulkan dengan mudah. Makna dalam budaya bukan merupakan makna baik dan buruk. Akan tetapi makna yang mengandung arti keseimbangan dan sosial dalam bermasyarakat. Atau bisadikatakan makna yang luhur, tidak memandang agama maupun yang lainnya. Sehingga, keantengan dalam berbudaya sangat indah dalam mata masyarakat.

Sebuah kebiasaan yang lahir dari individu dan masyarakat dapat membentuk tatanan kelakuan. Tatanan kelakukan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi budaya. Meleburnya ketiga hal tersebut (kebiasaan, kelakuan, dan budaya) melahirkan satu tatanan lagi yang disebut dengan kesepakatan.

Berbagai bentuk kebiasaan masyarakat, secara mudah, dapat ditemukan dalam kehidupannya sehari-hari, baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Hal ini dilakukan oleh masyarakat terkait dengan perannya sebagai makhluk sosial. Salah satu bentuk kebiasaan masyarakat tersebut adalah kebiasaan berbahasa dan berkomunikasi. Berbahasa dan berkomunikasi merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan.

Berkaitan dengan aktivitas berbahasa dan berkomunikasi tersebut, jika seorang, dua orang, atau beberapa orang berkomunikasi (melakukan aktivitas pertuturan), mereka secara langsung dan sengaja telah membawa suatu misi atau pesan yang signifikan. Mereka telah mempertukarkan tanda-tanda untuk membagi makna-makna.[2] Begitu juga dengan munculnya tradisi ini tidak lepas dari pengaruh para tokoh yang ada dalam wilayah tersebut. Baik secara makna maupun secara tindakan keseharian masyarakat tersebut.

Dalam suatu negara pastinya tidak bisa kita pungkiri banyak pelbagai mitos atau cerita-cerita mistis terkait dengan tradisi atau adat dalam suatu negara tersebut. Akan tetapi, pastinya da;am negara indonesia ini yang memiliki paling banyak budaya maupun tradisi dalam hal apapun. Baik dalam bahasa, kebiasaan, suku, ras, agama  dan lain sebagainya. Bisa dikatakan indonesia adalah negara yang memiliki banyak budaya (multikultural).

Di daerah ungkalan yang bertepatan diwilayah kabupaten jember propinsi jawa timur. Masih kental akan tradisi yang berbau mistis atau cerita-cerita yang memiliki ruh atau kehidupan. Sehingga hal ini menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat disana. Bahkan hingga saat ini tradisi ini masih harum dipermukaan masyarakat ungkalan.

Banyak hal yang ada dalam masyarakat ungkalan. Diantaranya seperti tradisi lesan seperti: buaya putih, hutan angker, hewan keramat, dan danyang, fenomena-fenomena orang hilang atau penunggu desa tersebut. Sehingga membuat masyarakat untuk mengapresisasikan mistis tersebut menjadi sebuah upacara adat (jawa= slametan atau ruatan) untuk menghibur agar desa diberi ketenangan atau keseimbangan. Hal ini pernah menjadi pertanyaan kepada informan kami [3], mbah kenapa harus ada upacara adat mbah, seperti ruatan-ruatan desa maupun ruatan wayang dan santri. Beliau menjawab untuk keharmonisan, keselamatan atau keseimbangan dalam bermasyarakat.

Dalam sebuah perbedaan, bukan hanya perbedaan dalam bentuk budaya saja. Akan tetapi perbedaan dalam beragama, ideologi, maupun perbedaan dalam berpikir. Hal ini yang menjadikan perbedaan lahir dan perbedaan ini yang melahirkan sebuah keharmonisan dalam bermasyarakat. Dalam catatan perbedaan yang saling menghargai satu sama lainnya.

Begitu juga dalam tubuh masyarakat ungkalan ada tiga pola pikir dalam menanggapi mitos atau tradisi lesan tersebut. Pertama: agama islam murni, artinya orangn ini hanya berpedoman atau berpola pikir murni keislaman, dalam artian tidak bisa dimasuki oleh tradisi yang ada diluar islam; kedua: kejawen, artinya bagian masyarakat ini terlalu kental dalam adat jawanya atau tradisi nenek moyang yang telah diwariskan kepada mereka dan tidak mau meninggalkan apa-apa yang telah di berikan, bahkan mendahulukan adat daripada agama; ketiga: islam kejawen artinya golongan masyarakat ini adalah masyarakat yang tidak meninggalkan hukum-hukum islam dan tidak meninggalkan tradisi atau adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Suatu fenomena yang terjadi di ungkalan adalah fenomena upacara adat. Pada awalnya upacara adat yang ada di ungkalan adalah ruatan desa dan ruat wayang, ruatan ini dilakukan pada malam hari. Suatu ketika dengan datangnya ustat nur selaku tokoh agama dalam desa tersebut maka ruatan ini ditambahi dengan ruatan santri. Ustat nur beranggapan bahwa, ruatan wayang dan desa sudah agak keluar dari hukum islam serta ada hal yang tidak memiliki subtansi. Contoh kecil: membuang-buang makanan berdoa kepada selai tuhan dan lain sebagainya. Sehingga dengan datangnya ustat nur ruatan ini di desain dengan sebaik mungkin agar tidak bertentangan dengan agama serta tidak mengganggu keseimbangan sosial yang ada di desa ungkalan tersebut.

Hubungan antara mitos dan realitas itu sangat dekat, bergantung pada cara pandang seseorang. Manusia itu hidup dengan mitos-mitos yang membatasi segala tindak tanduknya. Ketakutan dan keberanian terhadap sesuatu di tentukan oleh mitos yang ada disekelilingnya.  Banyak hal yang sukar dipercayai dapat berlaku penganutnya mempercayai sebuah mitos. Dan ketakutan manusia akan sesuatu lebih disebabkan ketakutan akan suatu mitos, bukan ketakutan yang sebenarnya.

Mitos bagi masyarakat primitif merupakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada suatu permulaan yang menyingkap tentang aktivitas supranaturalhingga saat ini. Namun, mitos penciptaannya tidak mengantarkan kepada sebab pertama atau dasar eksistensi manusia, melainkan sebagai jaminan eksistensinya. Berkaitan dengan aktivitas yang supranatural mitos dianggap sebagai yang benar, suci dan bermakna, serta menjadi pedoman harga bagi yang mempercayai dari linkungan tempat tinggalnya.

Demikian realitas mitos jawa diwujudkan melalui  bentuk upacara ritual. Pengulangan kembali mitos dalam upacara-upacara ritual samahalnya menghidupkan kembali mitos atau dimensi kudus pada waktu permulaan. Sehingga bagi masyarakat jawa, mengetahui mitos adalah suatu yang penting karena mitos tidak hanya mengandung tafsiran tentang dunia dengan segala isinya dan contoh model tentang keberadaanya di dunia, tetapi mereka harus mengulangi apa yang telah tuhan dan alam supranatural kerjakan pada waktu permulaan. Jadi, jelaslah mitos bukan merupakan pemikiran intelektual dan logika, melainkan lebih orientasi sepiritual dan mental untuk berhubungan dengan sang ilahi.

Hal ini bisa dikatakan bahwa mitstis, budaya, sosial dan empiris tidak bisa kita pisahkan meski bisa di bedakan. Itu semua sudah mendarah daging dan menjadi ruh dalam jiwa masyarakat indonesia terutama mayarakat ungkalan dan  masyarakat primitif lainnya. Sehingga yang menjadikan bangsa indonesia adalah bangsa yang kaya akan budayanya.

Dalam pembahasan kali ini peneliti semakin tertarik terkait dengan mitos yang telah di manifestasi dalam bentuk budaya-budaya atau tradisi yang sekarang ini masih kental di daerah ungkalan tersebut. Meskipun dalam hal ini kita sudah memasuki zaman moderen, yang sudah banyak mengenal perkembangan. Baik perkembangan dari teknologi, budaya, sosial, pendidikan dan lain sebagainya.

  1. Rumusan masalah

Dari berbagai pendapat dan litelatur diatas, peneliti ingin lebih dalam lagi dalam membahas terkai dengan mitologi yang ada di ungkalan, diantaranya:

  1. Mitos apa saja yang ada di daerah ungkalan?
  2. Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan?
  3. Apa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan?
  4. Bagaimana tradisi ungkalan dalam modernisasi?
  5. Bagaimana strategi dalam menghadapi globalisasi?
  1. Tujuan penulisan

Penulisan kali ini adalah bertujuan untuk menjawab dari permasalahan atau fenomena yang memang menjadi tanda tanya besar bagi kita.

  1. mengetahui apa saja yang ada di daerah ungkalan
  2. Mengetahui Macam-macam ruatan dan tradisi ungkalan
  3. Mengetahui dan paham akan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ungkalan
  4. Mengetahui tradisi ungkalan dalam modernisasi
  5. Mengetahui dan paham terkait strategi dalam menghadapi globalisasi

 

  1. Metode penelitian

 

  1. Pendekatan dan jenis penelitian

Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.[4]

Sedangkan jenis penelitian ini adalah berbentuk penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang diupayakan untuk mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan sifat obyek tertentu. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memaparkan, menggambarkan, dan memetakan fakta-fakta berdasarkan cara pandang atau kerangka berfikir tertentu. Metode ini berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan kondisi, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang.[5]

Penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu jenis penelitian yang mempunyai karakteristik lebih tertarik menelaah fenomena-fenomena sosial dan budaya dalam suasana yang berlangsung secara ilmiah.

Kualitatif deskriptif ini digunakan dengan beberapa pertimbangan, yaitu (1), lebih mudah apabila menghadapi kenyataan ganda. (2), menyajikan secara langsung hakikat hubungan peneliti dengan responden. (3), lebih peka dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan penajaman pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

  1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah ruang lingkup penelitian atau batasan ruang penelitian. Adapu lokasi penelitian ini mengambil ruang lingkup desa ungkalan, yang bertepatan di daerah hutan sabrang, kec: ambulu.

  1. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah sasaran yang dijadikan penelitian oleh penelitian. Peneliti mengambil obyek penelitian dengan cara pengambilan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah sumber  data dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan atau sumber data tersebut adalah orang yang berkuasa atau orang yang berpengaruh dalam tataran masyarakat. sehingga memudahkan peneliti menjalajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.[6] Dalam artian tidak seluruh masyarakat ungkalan dijadikan penelitian (sample).

  1. Kepala desa ungkalan
  2. Tokoh-tkoh di daerah ungkalan
  3. Sebagian masyarakat unkalan
  1. Teknik pengumpulan data

Pada tahapan ini peneliti memperoleh dan mengumpulkan informasi secara lebih mendetail dan mendalam berdasarkan pada fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan mulai pagi sampai malam hari atau hari-hari tertentu. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut:

  1. Observasi

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh indra [7]. Untuk menggali informasi dengan mengamati gejala-gejala atau kondisi sosial yang ada.

Ada beberapa manfaat menggunakan metode observasi yaitu pertama obervasi atau pengamatan adalah berdasarkan pengalaman, yang mana pengalaman langsung merupakan alat yang ampuh untuk menguji sebuah kebenaran. Kedua dengan pengamatan, memungkinkan melihat dan mengamati sendiri  kemudian mencatat prilaku dan kejadian sebagaimana terjadi pada keadan yang sebenarnya[8].

Maka untuk mendukung penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi dalam memperoleh data-data diantaranya :

  • Untuk mengetahui secara langsung situasi dan kondisi lokasi penelitian.
  • Untuk mengetahui secara langsung aktifitas Mahasiswa atau kader dalam waktu tertentu.
  • Untuk mengetahui secara langsung gejala-gejala dalam sosial organisasi
  1. Interview

Metode interview dikenal dengan tehnik wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewancara ( interview ) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai sebagai pemberi jawaban.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tak terstruktur, karena dengan metode ini peneliti lebih luwes dan leluasa dalam menyampaikan pertanyaan tentang bagaimana pandangan, sikap, keyakinan, dan keterangan lainnya. Subyek diberi kebebasan dalam menguraikan jawabannya serta mengungkapkan pandangannya sendiri tanpa harus dipaksakan. Pertanyaannya bervariasi dalam beberapa format: aplikasinya, isi, urutan pertanyaan[9].

  1. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambaran atau karya-karya monumental dari seseorang[10]. Dokumen ini digunakan dalam penelitian dalam banyak hal, dokumen sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan terhadap realitas yang di teliti.

Kaitannya dengan penelitian ini peneliti berusaha mencari arsip-arsip yang dibutuhkan serta memotret lokasi kegiatan yang ada di ungkalan. Hal ini yang menjadi kesulitan bagi peneliti terkai dengan arsip-arsip, dikarenakan waktu dalam penelitiaan ini sangat singkat. Maka dari itu kami mengambil data yang sekiranya kami bisa menempuhnya dan tidak banyak mengeluarkan waktu yang sangat banyak dan menyita kegiatan yang lainnya (urgen).

  1. Analisis data

Analisa data kualitatif adalah upaya yang di lakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat di kelola, memestikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting[11].

Dalam penelitian ini digunakan teknik analisa data kualitatif-deskriptif  yaitu suatu analisa yang menggambarkan fenomena-fenomena secara obyektif yang terdapat diobyek penelitian, selanjutnya dianalisis dengan mendialogkan data teoritik dan empirik secara bolak-balik dan kritis (bukan angka)[12].

Dengan demikian analisis  kualitatif-deskriptif  adalah kombinasi antara cara berfikir yang bersifat umum menjadi khusus dan berfikir yang bersifat khusus  menjadi umum atau mendialogkan data teoritik dan data empirik. Tahap-tahap analisa data yang digunakan adalah mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan (verifikasi).

  1. Mereduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan transportasi data yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Oleh karea itu data perlu disusun kedalam tema atau pokok permasalahan. Hal ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara tentang peran dan strategi pengembangan sumberdaya manusia. Reduksi data berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data. Hal ini mengeingat reduksi bisa terjadi secar berulang, jika ditemukan ketidak cocokan antara data, sehingga perlu dilakukan pengecekan kembali.

  1. Penyajian data

Data yang sudah di sederhanakan selanjutnya disajikan dengan cara disajikan dalam bentuk paparan data secara naratif. Data disini merupakan data yang masih dalam bentuk sementara atau mentah untuk keperluan peneliti dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut secara cermat sehingga diperoleh tingkat keabsahannya.

  1. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan terhadap temuan penelitian. Kesimpulan atau verifikasi dalakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu sejak awal memasuki proses penelitian dan selama proses pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan dengan cara mencari pola, gejala, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul dituangkan dalam kesimpulan yang bersifat tentatif. Dengan ditambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus akan menemukan kesimpulan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung.

Adapun model interaksi analisa data sebagai berikut: pengumpulan data, reduksi data, penarikan kesimpulan dan penarikan sementara, penarikan kesimpulan akhir, verifikasi[13].

 

  1. Keabsahan data

Keabsahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada[14].

Teknik triangulasi dibedakan menjadi empat sebagi teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Trianggulasi dengan metode di gunakan untuk pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Trianggulasi dengan teori merupakan berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Trianggulasi dengan sumber membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif[15].

Adapun teknik triangulasi yang digunakan yaitu teknik trianggulasi dengan sumber. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

Hal ini dapat dicapai dengan jalan di antaranya:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi;
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu;
  4. Membandingkan keadaan dan persepektif seseorang dengang berbagai pendapat dan pandangan orang lain;
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan[16].

Dari hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. Disamping itu perbandingan ini akan memperjelas bagi peneliti tentang latar belakang perbedaan persepsi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Historis Dusun Ungkalan

 

Pada awalnya, sebelum membahas terkait dengan mitos maupun tradisi yang ada di ungkalan. Trlebih dahulu kita mengetahui sejarah dari desa tersebut, agar kita tidak lupa dengan akarnya. Dahulu kala, warga ungkalan sebelum menjadi satu dalam satu desa ini mereka hidup terpencar-pencar, ada yang hidup atau menetap di Sumber Bulus, Canga Indah dan diberbagai tempat lainnya, mereka belum satu dusun seperti ini. Dari beberapa litelatur dan cerita yang didapatkan mereka (masyarakat) banyak yang bermukim di seberang gunung karena pada waktu itu banyak wabah malaria yang menyerang mereka dan menyebabkan banyak warga meninggal. Kemudian sebagian masyarakat membabat dusun ungkalan ini dan mengajak seluruh masyarakat yang ada di sana untuk pindah, dan berkas seperti perkampungan seperti bata, genting dan yang lainnya sampai saat ini masih ada.[17]

Pada awalnya dusun ungkalan ini dibabat oleh mbah Ponimin.  Beliau berasal dari ponorogo tepatnya di tegal sari dan istrinya yang bernama buk Mojinem yang berasal dari kota Pare kabupaten Kediri. Menurut cerita mbah subur[18], mbah ponimin masuk di daerah ungkalan pada tahun 1935 namun hanya sebatas menjalankan tugas dan pada tahun 1938 beliau membabat dan baru pada tahun 1942 resmi menjadi desa atau sebuah perkampungan kecil. Kemudian setelah semakin meluas dan semakin banyak penduduknya, maka dibabatlah sambirejo pada tahun 1947/1948,  selain itu mbah ponimin merupakan mandor pertamakali di perhutani.

Ada pertanyaan yang mendasar bagi kami terkait dengan dusun ungkalan ini. Mengapa dusun ini dinamakan dusun ungkalan,? Ungkalan ini berasal dari kata ungkal yang artinya nama ungkal ini merupakan sejenis batu yang biasanya di uat alat asah untuk benda tajam atau besi, seperti; pisau, cangkul, arit, garu dan lain sebagainya. Di daerah ini terdapat sebuah bukit atau gumuk ungkal, akan tetapi pada awalnya namanya bukan bukit ungkal melainkan gumuk macan. Gumuk ini dulu sering di kunjungi oleh orang-orang luar daerah untuk mengambil batunya. Sebagaimana batu tersebut dijual dan digunakan untuk mengasah pisau dan semacamnya. Lambat laun, gumuk ini berubah menjadi gumuk batu ungkal, kemudian dengan bahasa sederhana dan pengaruh dari gumuk tersebut yang batunya banyak dimanfaatkan oleh orang untuk mrngasah daerah ini menjadi daerah ungkalan.

Pada dasarnya, daerah ungkalan ini bukan hanya ada satu gumuk saja atau bukit. Daerah ini banyak bukit dan gunung. Bahkan bisa dikatakan daerah ini dikelilingi gunuing dan bukit. Diantaranya bukit bokong semar, nama bukit ini diambil karena secara fisik bukit ini ketika dilihat dari kejauhan terlihat seperti bokongnya semar, semar ini seperti tokoh yang ada dalam cerita perwayangan. Maka dari itu bukit ini dnamakan sesuai dengan bentuk dari bukit tersebut yakni bukit bokong semar.

Ada juga bukit yang namanya bukit menggeh. Bukit ini terletak di baratnya desa. Bukit ini dinamakan bukit menggeh karena anggapan warga sekitar masyarakat ungkalan bahwasannya ketika melewati bukit ini kondisi fisik dan nafasnya yang melewati meti merasakan lelah atau terngah-ngah (menggeh-menggeh=jawa)[19]. Ketika kita pahami, memang secara umumnya ketika kita melewati dataran tinggi, apalagi jalannya yang berpasir pasti kita merasakan kelelahan dan napas kita tidak beraturan. Sehingga, dengan anggapan ini masyarakat menamakan bukit ini dengan sebutan bukit menggeh.

Di daerah ungkalan ini banyak menyimpan hal-hal yang berbau mistis. Seperti kejadian yang dialami oleh pak priadi[20] sendiri yang katanya hilang selama seminggu dibawa oleh mahluk halus ktika beliau sedang mencari rumput di hutan petak tujubelas. Dan ceritanya tetangganya pak priadi yang pernah ditakut takuti oleh mahluk halus, beliau ketika mau jalan jalan di bukit menggeh pernah ditarik kakinya atau diseret kakinya oleh mahluk halus, rumahnya teletak di timurnya rumah pak priadi. Dan masih banyak lagi hal-hal yang bersejarah dan mengandung mistis di daerh ungkalan ini.

Begitu juga dengan ceritakan oleh bu pojok, terkait fenomena maupun kondisi sosial masyarakat ungkalan. Baik dalam hal mistis, rasional maupun empiris. Bu wati adalah orang pedatang dari gumuk mas atau daerah mengen. Beliau pindah ke ungkalan sekitar tahun 1986 bersama suaminya, pada waktu itu masih kepemimpinan pak soekarno presiden RI. Bu wati menceritakan pada masa mudanya di ungkalan, bu wati juga menemui tragedi PKI pada waktu itu, pembunuhan-pembunuhan. Mendengar ceritanya bu pojok “pada waktu itu nak, saya dengan keluarga saya sedang di dalam kamar, pasti kalau malam sebelum mobilnya orang PKI lewat kami tidak bisa tidur, dan tidurnya kami di atas lantai, karena kami tidak berani tidur diatas kasur (amben : jawa), pada waktu itu ada salah satu keluarga perempuan saya yang ngantuk berat, tidak terasa tertidur(kesirep : jawa), tidak lama kemudian dengan rasa takut dan kaget karena mobil orang PKI lewat depan rumah kami(bu pojok) saudara perempuan kami yang tadi langsung ngompol, karena sangking takutnya”[21].

Bersamaan dengan itu, menurut sebagian penduduk yang lain dusun ungkalan dihuni pendudk pribumi sebagai tempat persembunyian antek-antek komunis dan puncaknya pada tahun 1965 terjadi pembantaian besar-besaran oleh tentara nasional indonesia terhadap antek-antek partai komunis indonesia yang sering disebut atau terkenal dengan istilah G30S PKI. Di ungkalan mayoritas penduduknya yang saat ini merupakan generasi kedua, ketiga, dan keempat dari antek-antek partai komunis indonesia tersebut. Beberapa penduduk seperti pak jumiran, menceritakan bahwa orangtuanya dibantai karena dituduh antek PKI pada waktu itu. Penduduk asli ungkalan menyebut peristiwa tersebut dengan istilah Gestapo.

  1. Kondisi geografis

 

Secara geografis ungkalan adalah sebuah dusun yang terletak di desa sabrang kecamatan ambulu kabupaten jember yang teletak di daerah hutan sabrang. Letak dusun ungkalan dekat dengan desa sumberjo sekitar 100 meter yang hanya dipisah dengan sungai mayang. Akan tetapi secara administrasi ungkalan ini masuk desa sabrang karena bergandengan dengan hutan sabrang yang luasnya sekitat 3000 hektar[22].

Masyarakat ungkalan menyebut dusun ungkalan menjadi dua daerah, yaitu ungkalan dan sambirejo. Daerah ungkalan disebut dengan kidul ban (selatan rel lori), sedangkan sambirejo disebut dengan daerah lor ban (utara rel lori), penyebutan ini berdasarkan atas sejarah pada mulanya di daerah ini terbentang rel kereta untuk mengangkut kayu menuju ambulu pada masa belanda[23].

Akan tetapi,  baik daerah ungkalan (lor ban) maupun sambirejo (kidol ban) secara administrasi masuk di wilayah dusun ungkalan. Setelah indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 pemerintah mulai merevisi beberapa hal yang sebelumnya diberlakukan oleh belanda dan jepang, termasuk pengaturan mengenai pertanahan (agrarische wet). Sehingga, pada tahun 1960 pemerintah memberlakukan Undang-undang pokok agraria (UUPA) UU no.5 tahun 1960.

Setelah di tetapkannya UU agraria, mulai ada penertiban mengenai kebijakan agraria secara nasional meliputi segala hal tentang pertahanan. Kawasan hutan mulai dikelola oleh negara. Pada tahun 1979 perhutani mulai menertibkan kawasan ungkalan dan memberi kebijakan bahwa warga yang rumahnya berjauhan agar saling merapat. Hingga tahu ini warganya lebih dari 1700 kepala, pada tahun 2013 terdapat 1704 kepala. Secara otomatis pada tahun ini warganya semakin meningkat atau bertambah.

  1. Kondisi masyarakat ungkalan

 

Kondisi sosial merupakan sebuah situasi atau keadaan yang ada di dalam masyarakat ungkalan tersebut. Baik dalam hal sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Hal ini akan sedikit kami pisah-pisahkan dari kondisi sosial yang lainny, agar tidak tercampur aduk dengan yang lain.

  • Kondisi sosial masyarakat

Sekilas mengamati kondisi sosial masyarakat ungkalan, mayoritas disana adalah berbahasa jawa, ada yang berbahasa madura tapi sangat sedikit sekali. Masyarakat ungkalan merupakan masyarakat asli yang berkelahiran di ungkalan sendiri. Meskipun disana banyak pendatang dari luar. Seperti halnya bu wati, beliau aslinya orang luar kota, kemudian bu wati menikah dengan orang asli ungkalan dan menetap di ungkalan, beliau pindah pada tahun 1986.

Daerah ungkalan memang jauh dari pusat keramaiaan, bahkan sinyal HP sangat sulit disana. Ketika sebagian warga ingin keluar atau mencari hiburan terutama pemuda-pemuda ungkalan, mereka harus melewati hutan-hutan yang sangat panjang kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga untuk menuju keramaian (alun-alun ambulu) atau kota jember.

  • Kondisi sosial beragama masyarakat

Kata ustad nur[24], mayoritas agama warga disini adalah agama islam. Meskipun islam nya hanya formalitas, dalam artian islam KTP sebutannya islam, akan tetapi tidak melakukan perintah agama atau rukun islam. Di ungkalan juga ada yang beragama islam akan tetapi tidak satu ideologi dengan islam NU. Bisa dikatakan masyarakat disini masih terlalu awa.

Hal ini terbukti dengan sebagian aktivitas warga ungkalan. Ketika kami sedikit melihat dengan melihat, jalan-jalan ada juga yang memelihara anjing, babi dan ada juga yang meminum minuman keras. Akan tetapi hal ini sebagian kecil dari warga ungkalan.

  • Kondisi sosial pendidikan masyarakan

Kondisi sosial pendidikan masyarakat ungkalan adalah sangat minim sekali[25]. Mayoritas warga ungkalan yang sudah berkeluarga hanya tamatan SD dan SMP ada yang SMA akan tetapi sangat sedikit. Bahkan ada yang sudah sarjana, tapi hanya satu dan sampai sekarang ini mengajar di SDN 2 ungkalan sendiri, yakni pak Imam beliau tamatan atau alaumni IAIN jember.

Akan teapi di ungkalan juga sudah ada satu lagi yang masih berproses di bangku perkuliahan. Yakni anaknya bu simah, dia sekarang kuliah di jurusan kedokteran di kota malang, meskipun kondisi ekonomi bu simah juga tidak terlalu banyak.

Sedangkan pemuda yang ada disana banyak yang putus sekolah. Putus sekolah ini banyak faktor yang mempengaruhi mereka sehingga putus sekolah. Sepertihalnya; kurangnya motivasi dari keluarga, minimnya ekonomi dan lain sebagainya. Akan tetapi, warga ungkalan percaya dengan pondok pesantren bisa dikatakan fanatik dengan pondok pesantren, sehingga banyak warga yang memondokkan anaknya, terutama anak perempuannya, lantas mereka tidak percaya dengan eksistensi hadirnya pendidikan formal.

Di ungkalan juga ada lembaga pendidikan formal SD dan pendidikan taman kanak-kanak yang lokasinya berhadap-hadapan. Dahulu pernah mau didirikan lembaga pendidikan formal SMP, akan tetapi sama warga masyarakat tidak di setujui, karena lokasi pendirian lembaga tersebut mengorbankan lapangan yang dijadikan lokasi kegiatan masyarakat ungkalan. Seperti, acara ruatan desa maupun tempat nongkrong pemuda-pemuda. Karena disisi lain di lapangan ini banyak sinnyal HP, sehingga dengan kondisi yang demikian menjadikan pemuda-pemuda untuk berkumpul atau nongkrong di lapangan bersama teman-temannya.

Ketidak ingingan masyarakat bukan karena berdirinya SMP atau MTS tersebut, akan tetapi karena lapangan yang sebagai lokalisasi acara-acara masyarakat dijadikan korban. Jika MTS tersebut didirikan di lapangan maka warga tidak bisa menjalankan tradisinya atau menghilangkan tradisi dengan sendirinya karena kesulitan lokasi.

  • Kondisi sosial ekonomi masyarkat

Kondisi sosial ekonomi masyarakat ungkalan adalah bentuk matapencaharian atau pekerjaan masyarakat  ungkalan. Pada umumnya pekerjaan warga ungkalan adalah petani dan buruh petani. Dan ada juga yang pekerjaannya mencari rumput untuk makanan ternak dalam artian mencarikan rumput sebagian warga ungkalan sendiri. Selain itu ada juga yang berdagang seperti bu wati yang membuka toko di depan rumahnya. Akan tetapi pekerjaan ini sedikit di ungkalan.

Bahkan ada yang merantau di luar kota hingga di luar jawa. Seperti bu simah, selaku ibu rumah tangga beliau rela untuk bekerja di Malaisiya menjadi buruh disana untuk membiayai penddikan anaknya yang kuliah di perawat di malang.

Ketika kami sekilas berbincang-bincang dengan pak Misnadi[26] selain kami menanyakan tentang ruatan dan mitos atau cerita-cerita mistis di desa, kami juga menanyakan kondisi ekonomi di ungkalan. Kata beliau mayoritas masyarakat disini adalah pekerjaannya adalah petani dan buruh. Dan pada saat ini para petani menanam semangka di ladang. Pak misnadi juga mengatakan terkait hasil panen dari ladang tersebut, ketika panen para petani biasanya menghasilkan kurang lebih 10-15 juta per-panen. Dan panennya semangka atau buah buahan disana sangat cepat, bisa 2-2,5 bulan sudah bisa dipanen.

  1. Pengertian mitos dan tradisi atau budaya
  • Mitos

Pada dasarnya, pola pikir masyarakat terkait dengan mitos yang bersifat mistis mereka sama-sama meyakini atau mempercayai dengan adanya hal mistis. Begitu juga dengan perkataannya mbah sadik[27] bahwasannya pada initinya mahluk halus itu mesti ada dan keberadaanya itu sebenarnya sama dengan manusia, akan tetapi mereka tidak tampak. Seperti dengan adanya cerita buaya putih, danyang, dan mahluk halus yang membawa manusia ke alam jin.

Istilah mitos berasal dari Bahasa Yunani mythos yang berarti cerita dewata, dongeng terjadinya bumi dengan segala isinya. Mitos juga diartikan sebagai perihal dewata, kejadian bumi dan isinya, cerita kepercayaan pada dunia gaib[28].

Mitos adalah cerita-cerita anonim mengenai asal mula alam semesta dan nasib serta tujuan hidup, penjelasan-penjelasan bersifat mendidik yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada anak-anak mereka mengenai dunia, tingkah laku manusia, citra alam, dan tujuan hidup manusia. Mitos bersifat sosial berkaitan dengan keberadaan mitos itu sendiri. Mitos adalah milik masyarakat, diciptakan oleh masyarakat dan hidup di tengah lingkungan masyarakat. Mitos bersifat komunal dan anonim berarti bersifat bahwa keberadaan mitos diakui oleh masyarakat pendukungnya dan menjadi tuntunan, pencipta (pengarang) mitos tersebut tidak diketahui (telah hilang) atau dilupakan oleh masyarakat pendukungnya.

Mitos merupakan sebuah cerita tentang kejadian atau peristiwa alam dan kehidupan manusia yang mampu memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sikap sekelompok orang. Cerita tersebut dapat dituturkan tetapi  juga dapat diungkapkan lewat kesenian seperti tari-tarian atau pementasan wayang. Inti cerita ini merupakan lambang yang mencetuskan pengalaman manusia purba, yakni lambang kebaikan, kejahatan, keselamatan, hidup atau mati, dosa dan penyucian, perkawinan, kesuburan, firdaus dan akhirat. Jika manusia modern cenderung menganggap mitos sebagai rangkaian peristiwa atau cerita yang menghibur maka pada masyarakat tradisional mitos mempunyai makna yang lebih padat. Mitos memberikan arah kelakuan manusia dan merupakan semacam pedoman atau norma bagi kebijakan manusia. Lewat mitos manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian di sekitarnya dan dapat pula menanggapi daya-daya kekuatan alam.

Menurut Endraswara.[29] Mite atau mitos adalah cerita suci berbentuk simbolik yang mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imaginer menyangkut asal-usul dan perubahan-perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatan-kekuatan atas kodrati, manusia pahlawan, dan masyarakat, sehingga mitos mempunyai ciri tersendiri. Ciri-ciri mitos antara lain:

  1. Mitos sering memiliki sifat suci atau sakral, karena sering terkait dengan tokoh yang sering dipuja.
  2. Mitos hanya dapat dijumpai dalam dunia mitos dan bukan dalam dunia kehidupan sehari-hari atau pada masa lampau yang nyata.
  3. Mitos biasanya menunjuk pada kejadian-kejadian penting.
  4. Keberadaan mitos tidak penting, sebab cakrawala dan zaman mitos tidak terkait pada kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dunia nyata.

Mitos merupakan suatu peristiwa alam yang memberikan pedoman dan mengandung nilai didik tertentu. Jadi peranan mitos merupakan aturan yang dijadikan landasan atau pijakan dalam kehidupan manusia dalam mencetuskan suatu gagasan, sehingga memberikan perubahan pada manusia. Oleh karena itu mitos dipercaya ada tanpa dasar-dasar yang jelas dan masuk akal, yaitu tentang kehidupan manusia baik berupa perilaku manusia maupun peristiwa alam ghaib yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui lisan.

  • Tradisi atau budaya

Kebudayaan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan masyarakat, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat begitupula sebaliknya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Menurut Koentjaraningra[30]: Kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

Ruwatan merupakan peninggalan salah satu sisi kehidupan masyarakat Jawa yang diadatkan (menjadi tradisi) karena di anggap sakral. Kata ruwat sudah lama hidup dan ditemukan dalam karyasastra Jawa kuno, misalnya dalam kitab Ramayana yang ditulis pada jaman Mataram kuno, sekitar abad kesepuluh. Kata ruwat artinya “lepas”.10 Kata angruwat atau rumuwat artinya membebaskan, exercise, misalnya membebaskan seseorang dari roh jahat. Sering juga berarti “membebaskan, melepaskan, menyelamatkan”. Kata rinuwat artinya “dibebaskan, dilepaskan, diselamatkan”.11

Ruwatan adalah upacara yang dilakukan orang Jawa untuk menghindarkan diri dari nasib sial dan malapetaka terhadap manusia-manusia tertentu yang diyakini memiliki bawaan nasib sial sejak lahir. Manusia yang diyakini memiliki potensi malapetaka itu dalam istilah Jawa disebut manusia sukerta. Sebagian manusia Jawa memiliki keyakinan bahwa orang yang termasuk dalam kategori sukerta, dapat hidup normal dan jauh dari malapetaka jika dibersihkan/dibebaskan melalui upacara tertentu, yang disebut ruwatan. Manusia yang termasuk dalam ketagori sukerta tersebut dalam kepercayaan Jawa mengalami nasib sial karena ia menjadi mangsa Bathara Kala, satu tokoh dewa jahat yang dapat mencelakakan kehidupan manusia.

  1. Macam-macam mitos dalam masyarakat ungkalan

 

Mitos yang terjadi di ungkalan pada dasarnya sangat banyak sekali. Akan tetapi yang dapat kami rekam hampir sama dengan peneliti terdahulu, kami hanya memastikan kefalidan data tersebut tentang adanya mitos-mitos yang ada di ungkalan. Diantaranya;

  • Membuat acara ritual agar penunggu desa tidak mengamuk dan membuang perkara yang buruk.
  • Adanya mitos buaya putih yang menjadi penunggu desa.
  • Adanya kepercayaan yang bersifat mistis; seperti; dibwanya salahsatu warga ungkalan kedalam dunia jin.
  • Adanya slametan ketupat. Ketupatnya digantung di atas pintu rumah dan hewan peliharaannya (sapi, kebo dll). Agar di beri keselamatan.
  • Adannya ratu adil dalam desa.
  • Maupun mitos-mitos yang berbau tradisi lisan. Seperti; omongan-omongan orang jawa atau petuah jawa.
  1. Macam macam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Pada dasarnya ruatan  dalam kacamata masyarakat adalah slametan, dan slametan ini sangat banyak sekali. Baik slametan setelah hari raya, membangun rumah, membangun pondas, melahirkan, tuju hari dan lain sebagainya. Artinya, ruatan adalah sebagai ekpresi rasa sukur kepada sang maha cipta. Diantaranya ruatan-ruatan yang bersinggungan dengan keseharian warga maupun tradisi;

  • Ruatan ketika mengandung
  • Ruatan ketika melahirkan dan fase-fase perkembangannya
  • Ruatan ketika hari rauya idul adha maupun idul fitri
  • Serta ruatan bulan-bulan islam yang dianggap sakral di mata masyarakakat. Seperti malam suro dan sa’ban.
  • Ruatan desa
  • Ruatan wayang
  • Maupuun ruatan santri

Hal ini, sebagaimana untuk memperingati serti memberi rasa sukur dalam masyarakat serta warga yang lainnya. Maupun untuk memberi keseimbangan serta memberi keharmnisan dalam masyarakat.

  1. Nilai-nilai dalam ruatan atau tradisi masyarakat ungkalan

 

Nilai- nilai yang terkandung dalam ruatan sangat banyak sekali, ketika kita mau lebih jauh lagi memahami dan menggali terkait dengan nilai-nilai dalam budaya orang jawa atau masysarakat ungkalan.

Setelah kami refleksikan, kami hanya mampu menyaring beberapa nilai dalam tradisi masyarakat ungkala. Diantaranya;

  • Nilai dalam konteks keagamaan

Nilai dalam konteks keagamaan maksudnya tersiratnya nilai-nilai keagaamaan dalam tradisi budaya orang jawa. Sehingga, masyarakat jawa ketika memahami agama adalah fleksibel, artinya tidak keras atau kaku.

  • Nilai dalam konteks edukasi atau pendidikan

Nilai dalam konteks edukasi maksudnya, nilai atau pengajaran maupun pendidikan bisa di ajarkan melalui adegan ketika ruatan wayang terlaksanakan. Seperti; cerita sejarah terkait dengan sejarah-sejarah para penjajah maupun sejarah islam masuk di jawa.

  • Nilai dalam konteks sosial

Nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini adalah nilai sosial yang berbentuk gotong royong, solidaritas, saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

  1. Tradisi masyarakat ungkalan dalam dunia modernisasi

Dalam dunia modernisasi pada saat ini, mayoritas masyarakat beranggapan bahwasannya budaya atau tradisi yang telah mengakar dalam jiwa bangsa indonesia terutama masyarakat jawa sudah mulai terkikis dengan adanya desain baru dari bangsa luar. Baik melalui media maupun melalui wacana yang lainnya, sehingga mampu mendoktin pola pikir masyarakat menjadi liberal. Lebih lebihnya masyarakat kota yang beranggapan kolot terhadap tradisi jawa dan jadul.

Tradisi pada masyarakat jawa pada dasarnya memiliki banyak nilai-nilai yang terpendam. Atau memiliki pesan-pesan yang terpendam dan belum bisa terseampaikan kepada masyarkat yang berbudaya.

Bertahannya budaya jawa bukan hanya karena faktor eksternal saja. Melainkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah yang berangkat dari jiwa warga masyarakat tersebut sendiri maupun dalam sistemnya. Sedangkan caktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar masyarakat tersebut. Dalam artian mereka (masyarakat luar) mau dan mampu menghargai serta mengakui kebudayaan masyarakat jawa apa tidak.

Pada dasarnya bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

  1. Strategi dalam menghadapi globalisasi

 

Tidak dapat dibantah, arus globalisasi yang berjalan dengan cepat menjadi ancaman bagi eksistensi budaya lokal. Penggerusan nilai-nilai budaya lokal merupakan resiko posisi Indonesia sebagai bagian dari komunitas global. Globalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dicegah, tetapi efeknya yang mampu mematikan budaya lokal tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Budaya lokal perlu memperkuat daya tahannya dalam menghadapi globalisasi budaya asing. Ketidakberdayaan dalam menghadapinya sama saja dengan membiarkan pelenyapan atas sumber  identitas lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal. Memang, globalisasi harus disikapi dengan bijaksana sebagai hasil positif dari modenisasi yang mendorong masyarakat pada kemajuan. Namun, para pelaku budaya lokal tidak boleh lengah dan terlena karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, yang dibutuhkan adalah strategi untuk meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapinya. Berikut ini adalah strategi yang bisa dijalankan.

  • Pembangunan jati diri

Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit ditemukan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk. Selama ini yang terjaring oleh masyarakat hanyalah gaya hidup yang mengarah pada westernisasi, bukan pola hidup modern. Harus dipahami, nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang ketinggalan zaman sehingga ditinggalkan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan  earifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib sepenanggungan di antara warga. Karena itu, perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan penguatan budaya daerah.

  • Pemahaman falsafah budaya

Sebagai tindak lanjut pembangunan jati diri bangsa melalui revitalisasi budaya daerah, pemahaman atas falsafah budaya lokal harus dilakukan. Langkah ini harus dijalankan sesegera mungkin ke semua golongan dan semua usia berkelanjutan dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal dan nasional yang di dalamnya mengandung nilai-nilai khas lokal yang memperkuat budaya nasional.

Karena itu, pembenahan dalam pembelajaran bahasa lokal dan bahasa nasional mutlak dilakukan. Langkah penting untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidik dan pemangku budaya secara berkelanjutan. Pendidik yang berkompeten dan pemangku budaya yang menjiwai nilai-nilai budayanya adalah aset penting dalam proses pemahaman falsafah budaya.

Pemangku budaya tentunya juga harus mengembangkan kesenian tradisional. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya juga tidak boleh dilupakan. Tetapi, semua itu tidak akan menimbulkan efek meluas tanpa adanya penggalangan jejaring antarpengembang kebudayaan di berbagai daerah. Jejaring itu juga harus diperkuat oleh peningkatan peran media cetak, elektronik dan visual dalam mempromosikan budaya lokal.

  • Penerbitan peratudan daerah

Budaya lokal harus dilindungi oleh hukum yang mengikat semua elemen masyarakat. Pada dasarnya, budaya adalah sebuah karya. Di dalamnya ada ide, tradisi, nilai-nilai kultural, dan perilaku yang memperkaya aset kebangsaan. Tidak adanya perlindungan hukum dikhawatirkan membuat budaya lokal mudah tercerabut dari akarnya karena dianggap telah ketinggalan zaman.

Karena itu, peraturan daerah (perda) harus diterbitkan. Peraturan itu mengatur tentang pelestarian budaya yang harus dilakukan oleh semua pihak. Kebudayaan akan tetap lestari jika ada kepedulian tinggi dari masyarakat. Selama ini kepedulian itu belum tampak secara nyata, padahal ancaman sudah kelihatan dengan jelas.

Berkaitan dengan itu, para pengambil keputusan memegang peran sangat penting. Eksekutif dan legislatif harus bekerja sama dalam merumuskan sebuah perda yang menjamin kelestarian budaya. Dalam perda, perlu diatur hak paten bagi karya-karya budaya leluhur agar tidak diklaim oleh negara lain. Selain itu, masalah pendanaan juga harus diperhatikan karena untuk merawat sebuah budaya tentu membutuhkan anggaran meskipun bukan yang terpenting. Anggaran itulah yang nantinya dimanfaatkan untuk bisa memberi fasilitas secara berkelanjutan bagi program-program pelestarian budaya. Dalam hal ini, pemerintah memegang peran paling besar.

Untuk memperkuat daya saing budaya, pemerintah perlu membangun pusat informasi gabungan untuk pertunjukan seni, pendirian dan pengelolaan promosi pertunjukan seni, pengembangan tenaga ahli khusus untuk membesarkan anak yang berbakat seni, menggiatkan sumbangan pengusaha di bidang seni, penghargaan untuk pertunjukan seni budaya, peningkatan kegiatan promosi tentang produk budaya.

  • Pemanfaatan teknologi

Keberhasilan budaya asing masuk ke Indonesia dan memengaruhi perkembangan budaya lokal disebabkan oleh kemampuannya dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara maksimal. Di era global, siapa yang menguasai teknologi informasi memiliki peluang lebih besar dalam menguasai peradaban dibandingkan yang lemah dalam pemanfaatan teknologi informasi. Karena itu, strategi yang harus dijalankan adalah memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal.

Budaya lokal yang khas dapat menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah tinggi apabila disesuaikan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi. Harus ada upaya untuk menjadikan media sebagai alat untuk memasarkan budaya lokal ke seluruh dunia. Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya lokal akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi. Untuk itu, dibutuhkan media bertaraf nasional dan internasional yang mampu meningkatkan peran kebudayaan lokal di pentas dunia.

KESIMPULAN

Pada dasarnya di dalam tradisi atau upacara-upacara adat mengandung unsur mistis. Secara mitologis mayoritas acara-acara ruatan tersebut mengandung unsur megis. Serta memiliki pesan-pesan yang mau disampaikan kepada warga masyarakat. Dalam artian adanya budaya atau tradisi itu karena adanya cerita-cerita mistis atau secara mitologi.

Dalam masyakrat ungkalan banyak sekali mitos yang telah menjadi tradisi lesan di wajah masyarakat ungkalan. Seperti mitos buaya putih, danyan, penjaga desa, mitosnya nyiroro kidul maupun mitos yang memiliki nilai kesosialan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Nilai yan g terkandung dalam budaya, seperti yang telah kami sampaikan secara singkat dalam pembahasan. Seperti;

  • nilai keagamaan
  • nilai pendikan
  • dan nilai sosial masyarakat

bertahan atau kuatnya tradisi masyarakat jawa itu bisa tenang dan kuat karena tidak bertentangan dengan budaya islam memiliki nilai-nilai yang disampaikan dan memiliki pesan serta nilai pendidikan yang diajarkan. Ketika melihat masyarakat ungkalan, sudah nampak sedikit terkait dengan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Sehingga mampu bertahan sampai sekarang tradisi yang telah mengakar di warga ungkalan.

Untuk menanggapi dari adanya pengaruh globalisasi, kiranya ada empat poin. Diantaranya:

  • pembangunan jati diri
  • pemahaman falsafah budaya
  • penerbitan peraturan daerah
  • pemanfaatan teknologi informasi

hal ini kalaupun tidak berjalan dengan lancar dan sinergis pastinya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal atau hasil yang diinginkan. Dalam artian budaya atau tradisi tersebut akan mudah pudar.

KRITIK DAN SARAN

Tidak seharusnya ketika sudah mengenal dunia moderen masyarakat maupun masyarakat luas menghapus tradisi atau budaya indonesia yang telah mengakar di jiwa warga bangsa indonesia, terutama orang jawa.

Hal ini, pada dasarnya mereka (orang jawa) kurang mengakui dan diakui terkai denga budaya yang mereka lestarikan. Serta tidak ada pengakuan dari pemerintah sekitar yang mampu melestarikan serta menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam tradisi orang jawa,

DAFTAR PUSTAKA

  • Ratna,Nyoman Khutha. 2004. “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar).
  • 2004. Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar. (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia).
  • Moleong,Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosdakarya).
  • 2011. Metode Penelitian Pendidikan.(Bandung: CV Pustaka Setia).
  • 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R & D. (Bandung: Alfabeta).
  • Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • Syaodih, Nana. 2007metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
  • Moleong, Lexy J. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.. (Jakarta: Rineka Cipta).
  • STAIN Jember. 2009. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember).
  • Milles, M.B. AM.. 1992. analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT. ( jakarta: UIN Press).
  • Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta).
  • Zulfahnur, Zf. Dkk. Teori Sastra, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
  • Endraswara, Suwardi. 2006. Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala).
  • 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. (Jakarta: PT Rineka Cipta).

[1] Nyoman Khutha Ratna, “teori, metode dan teknik penelitian sastra: dari strukturalisme hingga postrukturalisme”,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),hlm. 67.

[2] Masinambow, Semiotik: Kumpulan Makalah Seminar, (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitiaan Universitas Indonesia, 2004),hlm.11.

[3]  Pak sadik: beliau adalah penjaga jembatan kayu, sebagaimana jalan untuk menuju keladang atau pantai.

[4] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),hlm.3.

[5] Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 3

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2010), 300.

[7] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta 1998). Hlm. 133.

[8] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004,hlm.125.

[9] Nana Syaodih, metode penelitian pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007),hlm. 112.

[10] Ibid,,hlm,204

[11] J Lexy Moleong. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineka Cipta. 2002).hlm.248

[12]STAIN Jember. Penulisan Karya Imiah: Makalah, Proposal, dan Skipsi. (Jember: STAIN Jember. 2009).hlm.16

[13] Milles, M.B. AM., analisis data kualitatif,T erjh Rohidi RT,( jakarta: UIN Press, 1992), hlm. 89.

[14] Sugiono, metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R dan D, (bandung: alfabeta), hlm .241

[15] J Lexy Moleong, 2004, hlm. 330-331.

[16] Ibid,hlm. 331

[17] Hasil wawancara dengan mbah muji(06 november 2013), wawancara ini dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang pernah melakukan riset disana. Samsul arifin, S.Pd.I.

[18] Beliau adalah putrakandung dari mbah ponimin dan buk mojinem yang lahir pada tahun 1949, (21 november 2013). Wawancara ini dilakukan oleh samsul arifin alumni IAIN Jember

[19] Katanya bu wati atau di juluki bu pojok yang memiliki warung di pinggir perempatan, dekat sekolah dasar di ungkalan.

[20] Pak priadi ini adalah orang atau narasumber yang pernah mengalami kejadian diluar nalar  pikir manusia, rumahnya pak priadi terletak di depan rumahnya bu watik dekat perempatan agak kebarat sedikit.

[21] Diceritakan oleh bu watik pada tanggal 15 november 2015 jam 08:00 wib.

[22] Hasil wawancara pak mashuri, 10 november 2013. Yang dilakukan oleh alumni IAIN Jember yang bernama Anwari Nuris, S.H.I. pada waktu riset di ungkalan tahun 2013 yang lalu.

[23] Katanya pak suprapto selaku kasun disana

[24] Ustad nur adalah salah satu informan kami, beliau merupakan pengasuh madrasah al hidayah yang ada di ungkalan.

[25] Hasil wawancara dengan pak imam mustaqim bersama sahabat dzul kifli, 19 november 2015, jam 20:00 wib.

[26] Pak misnadi adalah salah satu warga ungkalan yang setiap kali ada acara ruatan desa, ruatan wayang  maupun ruatan lainnya, yang membuatkan alat-alat ruatan adalah pak misnadi. Seperti cangkul; brujul dan garu. Rumahnya pak misnadi terletak di dekat SDN 2 ungkalan baratnya bu wati atau bu pojok. 16 november 2015.

[27] Mbah sadik adalah salah satu warga yang selalu menjaga jembatan tiap hari. Jembatan iin yang membangun adalah mbah sadik sendiri sebagaimana jembatan ini untuk jalan menyeberangi sungai mati. Wawan cara pada tanggal 20 november 2015.

[28] Zulfahnur, Zf. Dkk,  Teori Sastra, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1997), hlm.27.

[29] Endraswara, Suwardi,   Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Cakrawala, 2006), hlm.193-194.

[30] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 180.